Menghargai Hak Otonomi Anak Print
Written by Webmaster   
Saturday, 26 June 2010 05:37

WARNING! Artikel ini berbahaya dan mengandung kontradiksi dari yang ada selama ini, atau lebih tepatnya : kontradiksi dengan paham yang dianut kebanyakan orang tua. Jadi, jika setelah membaca artikel ini Anda masih tidak yakin dengan kebenarannya, silakan teruskan usaha yang Anda lakukan selama ini. Tapi jika Anda ragu-ragu, lebih baik berikan ruang bagi anak untuk membuat keputusan bagi dirinya sendiri, itu akan meminimalisir efek negatif dari perlakuan Anda.



"Mengembangkan bakat anak" tentu kita sebagai orang tua seringkali mendengar ini bahkan melakukannya, dan melakukannya secara optimal. Namun, sebuah penelitian memberikan hasil yang mengejutkan. Hasil dari penelitian itu menyatakan bahwa : "Jika menginginkan anak yang berhasrat pada suatu bidang, biarkan mereka sendiri"

Ini berkaitan dengan otonomi, yaitu kebutuhan dasar yang dibutuhkan manusia untuk merasa memiliki kendali atas nilai-nilai dan hasrat-hasrat mereka sendiri. Dan anak-anak pun memiliki hak atas otonomi mereka sendiri. Semakin banyak kontrol orang tua pada bakat/hasrat anak, maka semakin lemah otonomi anak.

Ketika di usia dini anak menunjukkan ketertarikan pada alat musik, maka orang tua memahaminya sebagai suatu bakat atau hasrat anak memainkan musik. Tindak lanjutnya, orang tua memberikan les musik sejak dini. Ketika di usia dini anak menunjukkan kesenangan bergaya di depan kamera, maka orang tua langsung memasukkannya ke klub modelling.

Saya tidak berkata bahwa itu salah, tidak sama sekali. Tapi, jika usaha mengambangkan bakat ini berlanjut sebagai usaha untuk berkompetisi, meraih prestasi setinggi mungkin, maka orang tua seringkali terperangkap dalam usaha memaksakan penguasaan bakat atau hasrat atau minat ini pada anak. Termasuk dalam penjadwalan latihan. Ketika ini terjadi, anak tidak lagi bisa menikmati hasratnya, mereka terjebak dalam keterpaksaan bahkan merasa tertekan. Mereka tidak punya otonomi atas hasrat mereka. Pada tahap selanjutnya, hasrat itu tidak ada lagi, berganti hasrat orang tua mereka.

Memang ada orang tua yang berhasil membawa anak-anak mereka berprestasi dalam bidang minat mereka melalui penjadwalan dan pengaturan yang ketat, tapi sebetulnya apa yang dirasakan anak-anak itu bukan lagi menjalankan kesenangan mengeksplorasi hasrat mereka, otonomi mereka telah hilang, demikian juga hasrat mereka. Anak-anak seperti ini mungkin akan berbahagia dan berbangga diri jika telah berhasil memainkan piano dalam suatu kompetisi, tapi mereka juga akan sangat depresi jika gagal, bukan karena merasa belajar mereka masih minim, tapi karena takut orang tua merasa kecewa. Jadi lebih kepada faktor dari luar dirinya, bukan dari dalam dirinya sendiri.

Berbeda dengan anak-anak yang memiliki otonomi dalam mengembangkan hasrat mereka. Anak-anak ini memiliki keinginan pribadi untuk menjadi ahli dalam bidang hasratnya tersebut, dan jika gagal, mereka memiliki keinginan untuk belajar kembali tanpa depresi.

Artikel ini tidak bertujuan untuk menganjurkan orang tua melepaskan anak tanpa mengarahkan mereka pada jalan menuju pengembangan hasrat mereka. Orang tua sebaiknya tetap memperhatikan suara anak, dan memberikan ruang bagi mereka untuk membuat keputusan terhadap hasratnya sendiri. Karena melalui penghargaan atas hak otonominya, anak bisa berkembangan dengan optimal dan dewasa, mampu bertanggung jawab untuk kehidupan mereka sendiri.

Hasil penelitian selengkapnya bisa di baca di : Want Passionate Kids? Leave 'Em Alone

 

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:26