Apa Itu "Fun Learning"? Print
Written by Webmaster   
Sunday, 20 June 2010 17:56

Berbicara tentang home education selalu berkaitan dengan "belajar yang menyenangkan". Beberapa orang beranggapan bahwa belajar yang menyenangkan itu hanya bisa ditempuh di tingkat playgroup-TK. Karena yang dibayangkan adalah belajar sambil bernyanyi-nyanyi, jingkrak-jingkrak, dan belajar sesuka hati. Apakah ini berarti setelah lepas dari TK anak tidak bisa belajar dengan cara yang menyenangkan (=fun learning)?



Sebetulnya apa itu fun learning? The Answer Sheet memberikan penjelasan : Fun implies that you are teaching the students to enjoy the subject you are teaching so that they will want to learn. Fun in this sense is not entertainment or silliness. It is enjoyment of the learning process.

= menyenangkan itu berarti Anda mengajar anak untuk menikmati subyek yang diajarkan sehingga mereka mau belajar. Dalam hal ini menyenangkan bukan berarti hiburan atau ketololan. "Menyenangkan" berarti kenikmatan dalam belajar.

Mengacu pada hal ini, maka belajar yang menyenangkan bisa diumpamakan sebagai suatu proses menanjak menuju pengetahuan, yang melibatkan ketegangan fisik dan pikiran, namun hasilnya, yaitu pengetahuan itu sendiri, dirasa sebagai reward yang sangat menyenangkan.

Berbeda dengan belajar yang tidak menyenangkan. Pada belajar yang tidak menyenangkan, reward-nya adalah keletihan akibat berproses yang tidak diiringi kehausan akan pengetahuan, dan prosesnya bukan menanjak, tapi menurun, melibatkan sikap diri yang negatif, misalnya marah, jengkel, takut, dsb.

Dengan mengartikan "fun learning" seperti di atas, maka fun learning bisa dialami tiap orang, tidak hanya anak TK-PG saja. Dan fun learning bisa diberikan, dengan cara :

- Menggali minat dan kebutuhan. Minat dan kebutuhan tiap anak adalah berbeda. Begitu juga potensi. Bila kita menganggap suatu hal penting, tapi anak tidak demikian, maka yang perlu kita gali adalah kebutuhan anak, lalu belajar disesuaikan dengan kebutuhan ini.

- Semakin banyak belajar, mempelajari bagaimana bisa menarik perhatian dan kebutuhan anak untuk belajar, misalnya melalui film, atau games.

- Berkomunikasi dengan anak lebih sering, melancarkan dialog, memberikan rasa aman bagi anak untuk menyampaikan harapan-harapannya tentang belajar.

- Mewujudkan ikatan yang erat antara anak dan subyek pembelajaran melalui pendekatan pada aktivitas kesehariannya.

- Memberikan tantangan. Beberapa anak memiliki kecenderungan suka pada tantangan, terutama tantangan yang sesuai dengan kapasitasnya dan membangkitkan energi positif. Carilah apa yang cukup menantang anak dalam subyek pelajaran yang ingin dipelajari.

Menurut pengalaman saya, dengan menerapkan hal ini dan dengan memusatkan proses pada anak, nak lebih mudah menyerap apa yang kita ajarkan, menganggapnya sebagai suatu kesenangan, dan dengan mudah membuat penerapannya. Bukankah ini yang kita harapkan sebagai hasil suatu proses belajar?

Jika suatu proses belajar tidak bermakna, menantang, dan menambah ikatan anak terhadap suatu subyek pelajaran, lalu untuk apa kita mengajarkannya? Dan apa gunanya untuk anak? Mari belajar bersama.

 

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:27