Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Support Group Home Education Indonesia
Kebahagiaan Belajar, Kelelahan Yang Terobati PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Sunday, 25 September 2011 16:40

Menjadi orang tua homeschooling itu tidaklah mudah. Kita menyiapkan sendiri segala keperluan pendidikan anak. Ada pekerjaan tambahan yang tidak dilakukan oleh orang tua yang tidak homeschooling. Paling tidak ada proses mencari kurikulum yang sesuai, mencari materi belajar, belajar tentang materi tersebut, dan mendampingi anak belajar dalam keseharian.

Orang tua homeschooling seringkali mengawali kegiatan sebelum matahari menampakkan diri. Mendahulukan pekerjaan mereka sebelum anak-anak bangun, supaya ketika anak bangun orang tua telah siap mendampingi mereka. Pembagian waktu ini adalah tepat. Ini memungkinkan orang tua mencurahkan konsentrasi dan pemikirannya pada proses belajar anak, karena urusan pekerjaan mereka selesai.

Cara belajar homeschooling yang sangat menghargai keunikan anak, seringkali menampakkan gairah belajar yang luar biasa, setiap hari, sewaktu-waktu selalu ada proses belajar yang dilakukan anak. Orang tua pun telah memahami hal ini sebagai suatu rutinitas yang biasa, ketika sewaktu-waktu ada saja hal-hal yang dipikirkan dan ditanyakan atau dinyatakan oleh anak sebagai petunjuk adanya proses belajar dalam pikiran anak.

Inilah yang menyenangkan dari homeschooling. Kejutan-kejutan belajar, tiap kemajuan kecerdasan yang didapat anak, itu semua menjadikan pengorbanan waktu dari orang tua menjadi tidak sia-sia. Pada beberapa keluarga homeschooling, proses inilah yang jadi tujuan utama dari pilihan homeschoolingnya.

Keluarga kami juga, inilah yang kami inginkan ada dalam keluarga kami, inilah tujuan kami berhomeschooling. Kami ingin hasrat belajar yang timbul secara alami dan kreativitas tanpa batas ini ada dalam keluarga kami, terutama dalam diri anak kami. Oleh karena itu kami memilih homeschooling.

Bukannya tanpa kesibukan lain, keluarga kami termasuk keluarga dengan tingkat kesibukan yang tinggi. Suami saya berkantor di luar rumah, dan setiap hari selalu ada PR yang dia kerjakan karena tingginya tuntutan pekerjaan. Saya sendiri juga berorganisasi dan berkomunitas, bekerja sebagai penulis dan pembuat kue. Saya juga bekerja tanpa asisten rumah tangga.

Saya berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum anak saya bangun, dan mengerjakan pekerjaan “kantoran” ketika anak saya bermain sendiri. Suami saya selalu mengerjakan PR-nya pada waktu anak sudah tidur malam. Ini kami lakukan supaya kami bisa mendampingi dan menikmati proses belajarnya.

Perkiraan saya dulu ketika memulai homeschooling, dengan kenyataan yang ada sekarang memang berbeda. Saya dulu membayangkan suatu proses sekolah di rumah, lengkap dengan jadwalnya. Dengan jadwal ini maka saya pribadi bisa memiliki waktu sendiri yang sudah terjadwal pula untuk mengerjakan pekerjaan saya sendiri, yaitu setelah selesainya “sekolah” anak.

Namun kenyataannya, semakin lama waktu berjalan (sekarang sudah 4 tahun kami mengarungi homeschooling) semakin sadar bahwa unschooling lebih sesuai untuk kami. Dunia belajar tanpa jadwal ini telah membuat kami jatuh cinta karena keluwesannya. Menjadi luwes berarti membuka lebar pintu belajar tanpa batas, termasuk batas waktu. Walaupun saya kemudian terkesan sering mencuri-curi, yaitu mencuri waktu untuk mengerjakan pekerjaan saya sendiri. Tapi itu tidak menjadi masalah, karena tujuan belajar secara home education sedikit banyak tercapai, yaitu lecutan proses belajar setiap waktu.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:37
 
Pencatatan Portofolio dan Raport Online PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Monday, 12 September 2011 17:58

Kebutuhan keluarga homeschooling sangat beragam. Ada yang tidak membutuhkan materi belajar yang terstruktur, ada pula yang tidak. Ada yang membutuhkan raport ada pula yang tidak. Ada yang membutuhkan pencatatan portofolio ada yang tidak, dst.

Sebagai support group dan komunitas home education/homeschooling, Klub Sinau menyediakan informasi untuk berbagai kondisi yang berbeda ini. Klub Sinau sudah menyediakan sistem pencatatan portofolio secara offline, yang perlu dicetak, lalu diisi secara offline. Sistem ini berguna untuk kondisi dimana sarana internet tidak bisa digunakan secara kontinyu di rumah.

Namun ada juga sebuah website yang menyediakan sistem pencatatan portofolio secara online, yaitu LearnBoost. Sistem ini sangat terintegrasi untuk per kelas. Penggunaannya sangat mudah, tidak rumit. Hasil yang tercatat pun bisa di-share. Jika yang aktif dalam proses homeschooling sehari-hari adalah ibu, maka ibu bisa share portofolio ini pada ayah, sehingga ayah bisa mengaksesnya dari kantor. Dengan demikian, orang tua yang terpisah jarak jauh hingga tidak bisa bertemu tiap hari bisa saling cek prestasi anak.

Website ini menyediakan fitur-fitur layaknya portofolio sekolah, karena memang tidak khusus untuk homeschooling. Walau begitu bisa dipakai untuk memenuhi kebutuhan homeschooling. Fitur yang disediakan antara lain pencatatan : jadwal, absensi, lesson plan, nilai test dan rangkumannya, dan laporan prestasi anak.

Bagi yang menginginkan pencatatan portofolio yang terorganisir dan hemat kertas bisa mencoba website ini.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 19:19
 
Membantu Anak Mengembangkan Sikap Bertanggung Jawab PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Sunday, 04 September 2011 10:24

Orang tua memiliki kewajiban mendidik anak menjadi manusia yang bisa bertanggung jawab. Karena melalui kebiasaan bertanggung jawab anak bisa menjadi pribadi dewasa yang mampu berpikir dan bertindak dengan menghormati diri mereka sendiri dan orang lain.

Pendidikan tentang tanggung jawab harus diberikan secara konkret, melalui kejadian yang nyata dialami anak. Begitu juga sebaliknya, mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab juga dilakukan dalam suasana yang konkret.

Orang tua yang sering menolak bertanggung jawab terhadap akibat dari suatu kejadian, akan dengan mudah ditiru anak. Anak yang mengetahui perilaku orang tua tersebut akan menirunya dalam kejadian lain yang melibatkan dirinya. Sebagai contoh, ada orang tua yang mengajak temannya bepergian ke suatu restoran untuk makan siang bersama, dengan mengatakan bahwa dia akan membayar makanannya. Sesudah makan ternyata orang ini menyodorkan tagihan ke temannya itu, sambil menagih pembayaran. Nah, anaknya yang melihat perilaku orang tuanya ini akan dengan mudah menirunya. Di lain waktu, si anak melakukannya terhadap saudaranya.

Bertanggung jawab sebenarnya juga melibatkan proses memahami perasaan orang lain. Bertanggung jawab harus diajarkan sejak dini, karena jika tidak maka akan menjadi bibit kejahatan ketika anak berusia dewasa. Banyak tindak kejahatan terjadi karena si pelaku tidak bisa bertanggung jawab. Sebut saja korupsi, si pelaku tak bisa memikirkan perasaan orang lain ketika dia melakukan korupsi, dia tak bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Atau kasus ayah yang meninggalkan keluarganya untuk menikah lagi dengan gadis yang muda-belia, ini terjadi karena si ayah tidak bisa bertanggung jawab, tidak bisa menghormati perasaan orang lain.

Dengan berbagai contoh kasus ini, akankah kita sebagai orang tua tetap menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab? Karena apa yang kita lakukan ditiru oleh anak.

Satu hal lagi, bahwa anak seringkali tidak bisa membedakan ketika orang tuanya sedang bergurau atau tidak. Ini dialami anak teman saya. Orang tuanya sering bergurau pura-pura tidak mau bertanggung jawab, padahal secara diam-diam dia bertanggung jawab. Suatu kali anaknya meniru, tidak mau bertanggung jawab dengan gaya bergurau, namun yang dilakukan si anak benar-benar adalah perilaku yang tidak bertanggung jawab, bukan sekedar gurauan seperti yang dilakukan orang tua. Nah, mari mempertimbangkan segala gurauan kita.


Apa Bertanggung Jawab Itu?

Tanggung jawab bukanlah sikap bawaan sejak lahir. Tanggung jawab dibentuk dari waktu ke waktu. Orang yang bertanggung jawab mampu berbuat baik walaupun tidak ada yang melihat, karena mereka memiliki pemahaman tentang kebenaran, memiliki keberanian dan pengendalian diri untuk berbuat baik, bahkan ketika ada godaan untuk berbuat tidak baik. Belajar untuk bertanggung jawab termasuk juga belajar untuk :

  • Menghormati dan menunjukkan kasih sayang bagi orang lain.

  • Mempraktikkan kejujuran sebagai suatu kebiasaan setiap waktu.

  • Menunjukkan keberanian dalam memegang teguh prinsip-prinsip kebaikan.

  • Mengembangkan kontrol diri dalam bertindak untuk menyatakan prinsip-prinsip hidup yang baik.

  • Penguasaan Diri


Mengasihi dan Menghormati Orang Lain Sebagai Wujud Tanggung Jawab

Sebagai bagian dari bertanggung jawab, anak harus menunjukan kepedulian dan kasih sayang pada orang lain. Tidak peduli siapapun orang itu, apa rasnya, apa warna kulitnya, bentuk matanya, bagaimana ekonominya, maupun agamanya. Anak harus mengasihi orang lain untuk bekal supaya dia bertanggung jawab. Banyak kasus orang dewasa yang tak mampu bertanggung jawab, korupsi di tempat kerja dengan alasan : “Tidak masalah, yang saya korupsi orang kaya kok, dia tidak akan merasa kehilangan.” Anggapan ini salah, dan ini bukan perilaku yang bertanggung jawab. Akhirnya dengan modal pemikiran seperti ini orang tersebut melakukan kejahatan korupsi.

Juga, tanpa tanggung jawab, anak bisa dengan mudah meninggalkan rumah yang berantakan oleh mainannya dengan alasan : “Tidak apa-apa, ibuku kan kaya, bisa menggaji pembantu untuk membereskan mainanku.” Ini juga bukan tanggung jawab. Tanggung jawab adalah memikirkan dan menghormati perasaan ibu atau pembantu yang lelah, dan karenanya akan membereskan mainannya sendiri.

Mengasihi dan menghormati orang lain juga bisa dilatih melalui rasa duka yang dialami oleh keluarga dekat. Misalnya ketika nenek sedang bersedih karena temannya meninggal, maka kita bisa mengingatkan anak bagaimana perasaannya ketika peliharaan kesayangannya meninggal, ada rasa kehilangan yang menimbulkan kesedihan. Lalu setelah anak bisa memahami perasaan neneknya, kita bisa mulai mengajarkan tentang cara menghibur nenek.


Kejujuran

Kejujuran berarti mengatakan yang sebenarnya. Ini berarti tidak menyesatkan orang lain untuk keuntungan kita sendiri. Ini juga berarti berusaha untuk membuat keputusan, terutama yang penting, berdasarkan bukti dan bukan prasangka. Kejujuran mencakup berurusan dengan orang lain dan bersikap jujur dengan diri kita sendiri. Untuk memahami pentingnya jujur kepada orang lain, anak-anak kita perlu belajar hidup bersama yang tergantung pada kepercayaan. Tanpa kejujuran, tidak mungkin ada kepercayaan satu sama lain. Jujur dengan diri kita melibatkan pengakuan pada kesalahan kita sendiri, bahkan ketika kita harus mengakuinya kepada orang lain. Ini termasuk kritik terhadap diri sendiri. Intinya adalah untuk belajar dari kesalahan kita dan melakukan yang terbaik untuk memperbaikinya.


Keberanian

Keberanian adalah mengambil posisi dan melakukan apa yang benar, bahkan dengan risiko kehilangan sesuatu. Ini berarti tidak ceroboh atau pengecut. Ini termasuk keberanian fisik, keberanian intelektual untuk membuat keputusan berdasarkan bukti, dan keberanian moral untuk membela prinsip-prinsip. Keberanian bukan berarti tidak pernah takut. Keberanian juga termasuk berani mencoba mengatasi ketakutan, seperti takut gelap. Tapi anak-anak juga perlu belajar bahwa mereka memiliki hak untuk merasa takut. Keberanian moral ini sangat penting terutama pada saat anak menjadi remaja. Mereka harus berdiri melawan tekanan teman sebaya untuk melakukan hal yang salah, seperti menggunakan obat-obatan narkoba.


Kontrol Diri

Kontrol diri adalah kemampuan untuk menolak perilaku yang tidak pantas dan untuk bertindak secara bertanggung jawab. Hal ini terkait dengan semua aspek dari tanggung jawab yang disebutkan di atas, termasuk penghargaan dan kasih sayang bagi orang lain, kejujuran, dan keberanian. Kontrol diri melibatkan ketekunan dan memelihara komitmen untuk jangka panjang. Kontrol diri juga berkaitan dengan emosi, seperti kemarahan, dan mengembangkan kesabaran.


Rasa Menghargai Diri Sendiri

Orang yang memiliki harga diri memilik kepuasan dalam perilaku yang tepat. Mereka tidak perlu menjatuhkan orang lain atau memiliki banyak uang untuk menghargai diri mereka sendiri. Orang yang menghargai diri sendiri juga melihat keegoisan, kehilangan kontrol diri, kecerobohan, pengecut, dan ketidakjujuran sebagai salah dan tidak layak bagi mereka. Ketika mereka dewasa, dan telah belajar bertanggung jawab, mereka akan mengembangkan hati nurani yang baik untuk membimbing mereka. Selain itu, orang yang menghormati diri mereka menghormati kesehatan dan keselamatan mereka sendiri pula.

Mereka juga tidak mau dimanipulasi oleh orang lain. Kesabaran atau toleransi tidak berarti membiarkan orang lain memperlakukan kita semena-mena. Sementara kita membantu anak-anak memiliki standar tinggi untuk diri mereka sendiri, kita juga perlu membiarkan mereka tahu bahwa kegagalan tidak akan mengakibatkan rasa malu ketika kita telah melakukan yang terbaik. Misalnya, kehilangan kemenangan ketika mereka telah melakukan yang terbaik, karena lawan memang memiliki kondisi yang lebih baik, perlu dijelaskan pada anak bahwa ini bukanlah suatu aib.


Menumbuhkan tanggung jawab pada anak memang bukan proses yang cepat dan instant. Bimbingan dan contoh nyata dari orang tua tetap diperlukan secara konsisten. Kekonsistenan adalah syarat mutlak yang tak bisa ditinggalkan. Namun ketika sikap tanggung jawab telah terbentuk dalam diri anak, akan tampak pula pribadi dewasa yang menyenangkan. Pendidikan homeschooling yang menggabungkan aspek akademis dan personality dalam keluarga sangat memungkinkan pembentukan sikap bertanggung jawab ini. Namun itu bukan berarti sikap ini akan terbentuk secara otomatis dalam keluarga home education, keluarga, orang tua dan anak tetap harus mengusahakan pembelajaran karakter ini secara bersama-sama, jujur, dan konsisten.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:38
 
Belajar Matematika Dengan Efektif PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Saturday, 06 August 2011 14:00

Beberapa waktu lalu ada yang menanyakan pada saya, kenapa anak saya kok kelihatannya pintar matematika? Apa materi yang saya pakai? Bagaimana belajarnya?

Nah ketika saya tunjukkan materi dari CIMT yang saya pakai, si penanya terheran-heran, karena materi CIMT bukanlah buku penuh warna dengan layout khas buku anak-anak yang menarik. Materinya gratis, berupa tulisan hitam-putih dengan angka-angka, dan gambar yang hitam putih pula tanpa warna. Lalu bagaimana anak saya bisa tertarik pada matematika?

Banyak orang tua berusaha sekuat tenaga supaya anak suka dengan matematika. Mereka mendaftar pada belajar online matematika dengan tampilan yang khas anak-anak, mereka membeli alat peraga, mereka membeli CD interaktif pembelajaran matematika, dll. Semuanya itu tak dilarang. Tapi bagaimana dengan orang tua yang budgetnya sangat minim? Bagaimana homeschooling bisa untuk semua anak jika harus berbayar mahal begitu? Menjadi orang tua homeschooling tidak dituntut untuk kaya atau punya banyak uang. Menjadi orang tua homeschooling hanya dituntut untuk kreatif, mau belajar, dan mau berusaha.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:39
Read more...
 
Dongeng Cerita Rakyat Nusantara PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Saturday, 06 August 2011 08:16

Memperkenalkan anak pada berbagai dongeng dunia adalah suatu hal yang positif. Terhitung ada banyak sekali dongeng legenda sedunia. Katakan saja tentang Aladdin, Cinderella, Rapunzel, Snow White, dsb. Memperkenalkan anak pada dunia dongeng mengandung banyak sekali keuntungan. Antara lain : anak dapat mengenal budaya dari berbagai negara didunia, dongeng biasanya mengandung nilai-nilai moral yang positif, dongeng juga membuat imajinasi anak berkembang bahkan menimbulkan ide-ide tentang kehidupan yang berguna untuk dia pikirkan.

Namun, banyak juga kisah dongeng yang tidak disampaikan dengan sebenarnya untuk saat ini. Menurut pengamatan saya, misalnya dongeng tentang Aladdin, ini sudah sangat dibelokkan oleh channel TV anak-anak : Disney Channel. Begitu juga dengan berbagai dongeng yang seharusnya mengandung suatu nilai moral yang baik. Akhirnya nilai yang ditonjolkan menjadi terasa sangat konsumtif, misalnya tentang para puteri yang memakai pakaian yang indah-indah, dengan rambut yang cantik. Belum lagi jika cerita dongeng itu lalu dibuatkan merchandise dengan pencitraan bahwa dengan memiliki merchandise itu anak akan menjadi seperti si tokoh dongeng. Nah ini nilai negatif dari pengembangan dongeng saat ini.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 19:22
Read more...
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Next > End >>

Page 9 of 23

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 27 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :