Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Inspirasi Belajar
Memandu Anak Menggapai Mimpi PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Monday, 10 October 2011 14:33

Sering kita mendengar ungkapan : biarkanlah anak memiliki mimpi mereka sendiri. Tapi sebenarnya apa yang dimaksud dengan mimpi? Bagaimana kita menyikapi setiap mimpi atau cita-cita anak secara aktual? Mari baca pemaparan berikut ini :

 

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:34
Read more...
 
Kebahagiaan Belajar, Kelelahan Yang Terobati PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Sunday, 25 September 2011 16:40

Menjadi orang tua homeschooling itu tidaklah mudah. Kita menyiapkan sendiri segala keperluan pendidikan anak. Ada pekerjaan tambahan yang tidak dilakukan oleh orang tua yang tidak homeschooling. Paling tidak ada proses mencari kurikulum yang sesuai, mencari materi belajar, belajar tentang materi tersebut, dan mendampingi anak belajar dalam keseharian.

Orang tua homeschooling seringkali mengawali kegiatan sebelum matahari menampakkan diri. Mendahulukan pekerjaan mereka sebelum anak-anak bangun, supaya ketika anak bangun orang tua telah siap mendampingi mereka. Pembagian waktu ini adalah tepat. Ini memungkinkan orang tua mencurahkan konsentrasi dan pemikirannya pada proses belajar anak, karena urusan pekerjaan mereka selesai.

Cara belajar homeschooling yang sangat menghargai keunikan anak, seringkali menampakkan gairah belajar yang luar biasa, setiap hari, sewaktu-waktu selalu ada proses belajar yang dilakukan anak. Orang tua pun telah memahami hal ini sebagai suatu rutinitas yang biasa, ketika sewaktu-waktu ada saja hal-hal yang dipikirkan dan ditanyakan atau dinyatakan oleh anak sebagai petunjuk adanya proses belajar dalam pikiran anak.

Inilah yang menyenangkan dari homeschooling. Kejutan-kejutan belajar, tiap kemajuan kecerdasan yang didapat anak, itu semua menjadikan pengorbanan waktu dari orang tua menjadi tidak sia-sia. Pada beberapa keluarga homeschooling, proses inilah yang jadi tujuan utama dari pilihan homeschoolingnya.

Keluarga kami juga, inilah yang kami inginkan ada dalam keluarga kami, inilah tujuan kami berhomeschooling. Kami ingin hasrat belajar yang timbul secara alami dan kreativitas tanpa batas ini ada dalam keluarga kami, terutama dalam diri anak kami. Oleh karena itu kami memilih homeschooling.

Bukannya tanpa kesibukan lain, keluarga kami termasuk keluarga dengan tingkat kesibukan yang tinggi. Suami saya berkantor di luar rumah, dan setiap hari selalu ada PR yang dia kerjakan karena tingginya tuntutan pekerjaan. Saya sendiri juga berorganisasi dan berkomunitas, bekerja sebagai penulis dan pembuat kue. Saya juga bekerja tanpa asisten rumah tangga.

Saya berusaha menyelesaikan pekerjaan rumah sebelum anak saya bangun, dan mengerjakan pekerjaan “kantoran” ketika anak saya bermain sendiri. Suami saya selalu mengerjakan PR-nya pada waktu anak sudah tidur malam. Ini kami lakukan supaya kami bisa mendampingi dan menikmati proses belajarnya.

Perkiraan saya dulu ketika memulai homeschooling, dengan kenyataan yang ada sekarang memang berbeda. Saya dulu membayangkan suatu proses sekolah di rumah, lengkap dengan jadwalnya. Dengan jadwal ini maka saya pribadi bisa memiliki waktu sendiri yang sudah terjadwal pula untuk mengerjakan pekerjaan saya sendiri, yaitu setelah selesainya “sekolah” anak.

Namun kenyataannya, semakin lama waktu berjalan (sekarang sudah 4 tahun kami mengarungi homeschooling) semakin sadar bahwa unschooling lebih sesuai untuk kami. Dunia belajar tanpa jadwal ini telah membuat kami jatuh cinta karena keluwesannya. Menjadi luwes berarti membuka lebar pintu belajar tanpa batas, termasuk batas waktu. Walaupun saya kemudian terkesan sering mencuri-curi, yaitu mencuri waktu untuk mengerjakan pekerjaan saya sendiri. Tapi itu tidak menjadi masalah, karena tujuan belajar secara home education sedikit banyak tercapai, yaitu lecutan proses belajar setiap waktu.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:37
 
Benarkah Semakin Berat, Semakin Hebat? PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 14 July 2011 07:42

Ditulis oleh Rhenald Kasali di koran Sindo 14 Juli 2011

Sebagian besar pembaca, mungkin dibesarkan dalam kultur ekonomi yang sulit sehingga kaya dengan berbagai peribahasa seperti: Hemat Pangkal Kaya dan Rajin Pangkal Pandai.  Kita bermain layang-layang di antara pematang sawah yang tiada batasnya, menangkap belut di antara lumpur-lumpur sungai yang airnya bening, bermain bersama anak-anak kampung dengan tiada henti canda, tawa, dan keringat.

 

Bagaimana anak-anak kita sekarang?  Lahan-lahan kosong telah berganti menjadi kebun sawit atau perumahan mewah. Tak ada lagi lapangan badminton, arena bermain layang-layang dan air yang mengalir bening. Pestisida dan pupuk kimia merusak tanah. Tapi anak-anak punya mainan baru, Facebook, Twitter, online games, warnet, dan bimbel.  Pergaulan fisik diganti oleh dunia maya, statistic, dan ilmu berhitung diganti kalkulator dan software.  Dulu kita hanya belajar sembilan mata pelajaran sehingga masih banyak waktu untuk bermain. Bagaimana anak-anak kita?

 

Bukannya dikurangi, tetapi semakin hari yang dipaksakan masuk ke dalam otak anak-anak kita semakin banyak.   Sewaktu saya menulis "Sekolah Untuk Apa?" minggu lalu, saya menyebut anak saya di kelas sepuluh diharuskan menuntaskan 16 mata pelajaran,  seorang ibu menyurati saya karena anaknya yang belajar di MI diwajibkan tuntas 23 mata pelajaran. Sementara di New Zealand dan banyak negara maju anak-anak sekolah hanya mengambil 6 mata pelajaran.  Ketika mereka menganut spirit "The Power of Simplicity", kita justru tenggelam dalam spirit benang kusut, "kalau terlalu mudah tidak akan melahirkan kehebatan".

 

Bukan hanya itu, di banyak negara selain dirampingkan, mata ajar wajib juga dibatasi hanya dua, selebihnya dijadikan pilihan yang dikaitkan dengan karier masa depan.  Bagaimana di sini?  Mata ajar yang banyak itu adalah mata ajar yang "sakral", wajib diambil semuanya. Kesakralan itu sesungguhnya hanya semu saja, karena mata ajar agama disamakan dengan berhitung dan sejarah ala kita, yaitu ala hafal-hafalan.  Bukan belajar dari sejarah, tetapi pengetahuan tentang sejarah. Bukan akhlak dan moral dalam beragama, melainkan hafalan ayat. Dan bukan logika matematika, melainkan bagaimana menurunkan rumus.  Lengkaplah penderitaan anak-anak kita.

 

Ubah Cara Pandang

Namun sewaktu saya bercerita bagaimana sekolah di Belanda, Cina, dan New Zealand, ada juga orang tua yang protes.  Mereka tak menginginkan sekolahnya dibuat lebih mudah.  “Sekolah itu memang harus sulit dan anak-anak harus berjuang,”.  Kalau dibuat mudah, bagi orang tua ini, maka sekolah tak akan menghasilkan apa-apa.  Saya dapat mengerti pandangan ini karena anaknya termasuk anak yg cerdas, tuntas semua mata pelajaran dengan nilai tinggi. Namun saya kurang mengerti bagaimana orangtua rela menyita seluruh waktu masa muda anaknya hanya untuk belajar.

 

Mendidik bukanlah untuk melahirkan orang-orang yang bingung, tahu semua tapi selalu bertanya "saya harus melakukan apa?" ini adalah realita, semakin banyak ditemui orang yang tak bisa bekerja dengan prioritas.  Anda mungkin pernah mendengar ucapan Stephen Covey, "Dahulukanlah Yang Utama". Atau seperti kata Maxwell, "Bekerjalah dengan prioritas karena 80% hasil yang engkau capai hanya berasal dari 20% upayamu." Orang yang ingin menuntaskan semua tugas (dan banyak) bisa bagus di ijazah tapi bisa bingung dalam kehidupan.  Kata para ulama, kesempurnaan hanyalah milik Tuhan.  Tetapi seperti Michael Jackson yang sudah sempurna, manusia selalu ingin lebih sempurna lagi, sampai akhirnya rusaklah wajah,  tubuh dan kesehatan jiwanya.

 

Saya juga kurang mengerti kalau pendidik kurang memahami bahwa talenta dan leadership merupakan kunci untuk mencapai keberhasilan hidup.  Untuk itulah talenta harus diasah, diberi ruang ,dan waktu agar ia tumbuh . Leadershipmaupun entrepreneurship diasah dari keseharian di luar bangku sekolah.  Diuji dalam interaksi kehidupan.

Tentu saya bertanya-tanya kalau pendidikan kita dibuat lebih ramping apakah benar menjadi lebih baik.  Saya selalu teringat masa-masa memulai karir sebagai penguji di program S3.  Saat seorang tua, kandidat doktor diuji, yang mengajukan pertanyaan ada 13 orang hebat.  Namanya juga orang hebat, pertanyaannya pasti sulit bagi seorang pemula.  Tetapi Semua penguji tidak puas, kandidat digoreng kekiri, diongseng ke kanan hingga nyaris hangus. Di ruang rapat semua menyatakan tidak puas.  Sebagai doktor muda yang baru kembali dari sekolah doktor saya tak punya suara yang berarti. Saya hanya bertanya,"beginikah cara bapak-bapak menguji seorang calon doktor?"

 

Semua orang terdiam, dan saya pun terkejut dengan pertanyaan saya.  Beberapa orang menatap tajam, karena mereka adalah mantan guru-guru saya dan terkenal di hadapan publik. Karena malu telah berta-kata bodoh, saya teruskan saja berkata jujur.  Saya katakan kita harus percaya diri.  Ujian dengan penguji sebanyak ini menunjukkan kita kurang pede. Lagi pula tak ada yang bisa lulus dengan ujian seperti ini.  Semua dosen hanya marah-marah karena kepintarannya tak dimengerti orang lain, dan memberi saran yang saling bertentangan.

 

Sayapun mengatakan andaikan saya yang diuji di sini, saya berani jamin saya pun tidak akan lulus.  Pertanyaan ujian terlalu luas.  Di Amerika Serikat, kita hanya diuji oleh empat orang pembimbing, dan bila kita bingung, kita tidak dibantai, malah dibantu. Di Indonesia, kalau kita membantu mahasiswa kita dianggap berkolusi.  Di SLTA negara-negara maju, jumlah mata ajar memang ramping, tetapi sejak remaja mereka sudah biasa membuat makalah dengan kedalaman referensi dan terbiasa bekerja dengan metode ilmiah.

 

Demikianlah persekolahan kita. Bukannya disederhanakan, justru dibuat menjadi lebih kompleks. Semua mata ajar kita anggap sakral. Buku ditambah. Subjek ditambah. Guru juga ditambah. Saya kadang tak habis berpikir, bagaimana kita bisa menghasilkan kehebatan dari keribetan ini.

 

Saya tentu tak akan protes kalau dengan sekolah yang ditempa kesulitan ini kita bisa pergi ke bulan. Fakta menunjukkan sebaliknya.  Bahkan TKW yang Sekolah Dasarnya ditempuh dengan sama beratnya dengan para dokter saja hanya berakhir di ujung kesulitan. Tidakkah kita bertanya, jangan-jangan ada yang tidak beres dengan kurikulum persekolahan kita?

 

Saya juga bertanya-tanya, akankah anak-anak dididik dengan baik kalau hanya belajar 6 mata pelajaran seperti  di New Zealand, Denmark atau negara-negara industri lainnya?   Namun fakta yang saya temui, ternyata pendidikan yang hanya fokus pada enam mata pelajaran itu menempatkan pendidikan New Zealand terbaik keenam di dunia.  Rasanya di sana juga tak ada siswa yang kesurupan saat ujian, apalagi contekan massal.  Perlukah kita meremajakan cara berpikir kita?

 

Rhenald Kasali

Ketua Program MMUI

 

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/412716/44/

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:20
 
Membangun Tim Belajar PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 11 July 2011 06:12

Pertanyaannya adalah : mengapa harus belajar dengan efektif? Apakah pembelajaran yang dibangun oleh keluarga homeschooling sudah baik? Apakah sudah menciptakan lingkungan belajar yang interaktif?

Pola belajar yang harus dikembangkan adalah belajar dalam tim. Artinya, antara anak dan orang tua adalah satu tim. Kebanyakan proses belajar konvensional adalah anak sebagai murid dan orang tua sebagai guru, ini hanya akan menempatkan anak sebagai figur yang dijejali informasi, dan orang tua adalah figur yang menjejali informasi. Dan proses belajar ini bukanlah proses belajar dalam tim. Apa akibat dari proses ini?

  1. Kurangnya rasa keterlibatan anak terhadap proses belajar, hingga dia terbiasa untuk menjadi penerima pasif tanpa mau tahu apa yang ingin dia pelajari.

  2. Orang tua dibuat terlalu sibuk karena merasa sebagai penentu utama dalam proses belajar.

  3. Kedua kondisi diatas menimbulkan ketidakseimbangan peran dalam proses belajar, akibatnya anak tidak terlibat secara optimal dalam proses belajar dan orang tua merasa sangat terbebani. Ini tidak baik.

Apa yang terjadi jika anak dan orang tua menempatkan diri dalam sebuah tim?

  1. Adanya proses saling belajar, ini membuat anak melihat sebuah fenomena contoh sikap belajar yang baik dari orang tuanya. Orang tua menransfer sikap belajar yang baik pada anak, yait usikap yang aktif belajar, bukan melulu sikap mengajar.

  2. Adanya bonus hasil belajar, yaitu pembelajaran hubungan interpersonal, pembelajaran ilmu negosiasi, dan pembelajaran kerja tim.

  3. Anak akan mampu mengembangkan : kemampuan komunikasi oral, kemampuan mendengarkan, kepercayaan diri, mengembangkan motivasi dan penetapan tujuan bagi tim belajarnya. Ini nantinya akan berujung pada kemampuan kepemimpinan yang baik dalam diri anak.

  4. Dalam waktu yang sedikit akan ada banyak hal yang bisa dipelajari, karena segala proses belajar dilakukan dalam sebuah kesepakatan, bukan keharusan. Ini menjadikan proses belajar jadi sangat efektif.

Bagaimana suatu tim belajar bisa dijalankan?

  1. Dari directing menjadi guiding. Dari memberi perintah jadi membimbing. Ini artinya, ada proses menunjukkan kebenaran yang juga dibarengi proses mendengarkan kemauan anak. Keduanya berjalan seiring. Orang tua harus meninggalkan keinginan pribadi dalam proses membimbing ini.

  2. Competing ? collaborating. Alih-alih membuat suatu kompetisi, proses belajar dalam tim ditujukan untuk berkolaborasi, bekerja sama untuk mewujudkan suatu kondisi belajar yang lebih baik.

  3. Relying on rules ? relying on guidelines. Rules berbeda dengan guideline. Rules (peraturan) adalah sesuatu yang harus dijalankan, tidak terbantahkan. Guidelines (pedoman) adalah pokok gagasan untuk mencapai suatu tujuan. Pedoman dapat dilakukan secara fleksibel dengan berbagai cara yang disepakati bersama dalam tim dengan tujuan yang tetap. Melakukan sesuatu hal berdasarkan perintah hanya akan menghasilkan robot-robot yang beraksi dengan rasa takut. Tapi melakukan suatu hal untuk mencapai tujuan dengan berdasarkan pada pedoman akan membawa pada kreativitas usaha.

  4. Lecturing ? team activities. Berdasarkan gambar di bawah ini, proses belajar dengan lecturing (mengajar) hanya akan menghasilkan penyerapan materi sebanyak 5%. Tapi jika dilakukan dalam tim akan menghasilkan penyerapan materi sebanyak 50% hingga 90%.

  5. Consistency/Sameness ? diversity/flexibility. Proses belajar yang berhasil pada jama dahulu dan pada seorang anak belum tentu bisa diterapkan pada jaman sekarang dan pada anak yang berbeda pula. Proses belajar tim mengedepankan perbedaan tiap individu dan fleksibilitas prosesnya, untuk itu keahlian saling mendengarkan (listening) sangat dibutuhkan.

  6. Secrecy ? openness/sharing. “Sudahlah, pokoknya lakukan saja apa yang say asuruh,” pernahkah mengucapkannya pada anak? Tahu tidak, ucapan ini bagi anak mengandung sangat banyak kerahasiaan, sehingga menimbulkan pertanyaan dalam diri anak : “Mengapa saya HARUS melakukannya? Ada apa dibalik kegiatan itu hingga saya HARUS melakukannya?” ini hanya akan menimbulkan kebingungan pada anak. Orang tua sebagai anggota tim belajar homeschooling harus memeberi penjelasan mengapa tim harus melakukan suatu aktivitas, penjelasan ini harus diberikan hingga anak paham dan sukarela melakukan aktivitas tersebut.

  7. Passive ? active. Kerja tim seharusnya membuat semua anggota tim menjadi aktif. Bukan kerja tim namanya kalau ada satu anggota yang pasif, itu berarti kerja tim belum maksimal dan harus terus dilakukan perbaikan.

  8. Isolated decision ? involvement of others. Membuat keputusan bersama, keputusan tidak hanya diserahkan pada satu pihak saja. Anak dan orang tua harus terlibat secara seimbang.

  9. Result thinking ? process thinking. Tujuan tim harus dibuat dan disepakati sebagai tujuan bersama. Namun, yang utama bukanlah tujuan ini, yang utama adalah proses dalam mencapai tujuan tersebut. Proses kerja sama dalam tim untuk mencapai tujuan tersebut, itulah yang utama.

  10. Mengganti ujian dengan diskusi, ujian biasanya hanya untuk menguji kinerja anak, diskusi lebih kepada kinerja tim.

Tentu saja belajar dalam tim ini membutuhkan perubahan pola pikir orang tua. Jika dari awal orang tua telah membuat proses belajar yang hanya satu arah, maka memang dibutuhkan usaha ekstra untuk merubah pola pikir orang tua. Namun orang tua yang telah memiliki pola pikir kerja tim dalam proses belajar bersama anak akan menransfer pola pikir tersebut pada anak. Jika terjadi demikian, maka anak juga akan memiliki kebiasaan kerja tim dalam pembelajarannya. Ini tentu hal yang sangat baik, dan segala kemampuan kerja tim akan dimiliki anak, yaitu segala keuntungan yang telah saya uraikan di atas tentang “Apa yang terjadi jika anak dan orang tua menempatkan diri dalam sebuah tim?”

Kerja tim bisa dilakukan sejak dini, ketika anak masih usia dini, tidak perlu menunggu hingga "anak bisa diajak berkomunikasi", yaitu ketika anak telah berusia remaja. Anak usia 5 tahun pun telah bisa diajak bekerja dalam tim, yaitu melalui pembiasaan mendengarkan orang lain dan mengetahui bahwa dirinya didengarkan oleh orang lain (orang tua).

Dalam homeschooling, kita tentu tidak ingin menghasilkan anak-anak yang pasif belajar, hanya menerima, bagaikan robot yang tak punya sikap sendiri. Kita ingin anak tumbuh dengan keyakinan diri dan kemampuan interpersonalnya. Mari mengubah ruang kelas kita menjadi ruang bagi kerja tim untuk mencapai hasil belajar yang optimal dan bahagia.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:39
 
Mengambil Tanggung Jawab Besar Sebagai Modal Untuk Mendapatkan Otoritas Yang Lebih Besar PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Tuesday, 19 April 2011 10:40

Salah satu mentalitas negatif yang dimiliki banyak orang dewasa saat ini adalah mentalitas menghindari tanggung jawab besar hanya karena malas berusaha lebih keras. Ingin hasil atau pendapatan yang instant tanpa kerja yang lebih keras dan lebih cerdas. Padahal kerja keras saat ini yang tampak di awalnya kurang menguntungkan itu sebenarnya menghasilkan pengakuan dari orang lain tentang kapabilitas dan kapasitas kita.

Ketika kapabilitas sudah diakui oleh banyak orang, pada akhirnya akan banyak hasil yang akan kita raih. Kerja keras, semangat, kemauan untuk berusaha itu adalah modal awal kesuksesan.

Pendidikan anak dalam keluarga seharusnya juga mengajarkan keseimbangan ini, supaya tidak terbina mentalitas “hasil instant” pada anak-anak seperti yang selama ini banyak terbina dikalangan anak-anak yang mendapat pendidikan di sekolah formal. Kegembiraan, kreativitas, dan kesanggupan untuk menerima tanggung jawab besar dalam suatu proyek belajar adalah awal pemupukan sikap kerja seorang manusia yang penuh hasrat untuk maju. Ini juga diiringi dengan kejujuran dan kemauan untuk bekerja keras.

Pada dasarnya anak-anak adalah manusia yang baik dan tidak bermasalah. Orang dewasa yang sering kali merusak kebaikan ini dengan menyajikan ide hasil instant, seperti misalnya dengan memberikan bocoran soal ujian. Jadi kita harus mulai dari diri sendiri untuk mengarahkan anak-anak pada sikap hidup yang baik, yaitu bersedia berusaha lebih keras sebagai modal untuk peningkatan nilai pribadi dan otoritas yang lebih besar. Dari sinilah pengakuan dunia terhadap kualitas pribadi itu dimulai. Dan keluarga home education memiliki peluang yang sangat besar untuk pengembangan kepribadian ini.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:45
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 2 of 5

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 46 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :