Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Inspirasi Belajar
Kulwap Moore Formula Dalam Keseharian Pendidikan Berbasis Keluarga PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Saturday, 25 July 2015 15:27

Yuli Al Fi:

Assalamualaikum. Selamat malam semuanya. Saya Yuli, moderator kulwap kali ini dengan tema "MOORE FORMULA dalam keseharian pendidikan berbasis keluarga". Sebelumnya, ini adalah biodata narasumber kita kali ini:

Maria memulai homeschooling untuk anaknya sejak usia 4 tahun, langsung dengan metode Moore Formula. Sebelumnya, telah mempelajari berbagai metode, dan langsung merasa "klik" dengan Moore Formula, karena metode ini yang low stress, low budget, dan penggabungan berbagai aspek psikis maupun fisik untuk pembentukan karakter dan kepribadian anak yang hebat.

Selanjutnya silahkan mb Maria memberikan materi.

Last Updated on Saturday, 25 July 2015 15:37
Read more...
 
Mewujudkan Kemandirian Belajar PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 20 November 2014 14:09

Jika berbicara tentang pendidikan, target belajar usia SD adalah mandiri dalam belajar. Target ini beda dengan sekolah. Target SD untuk sekolah adalah lulus ujian, untuk meneruskan ke SMP. Ini tidak bisa dipungkiri, mengingat kondisi sekolah saat ini.

Namun, betapa beruntungnya kita yang ada dalam jalur pendidikan berbasis keluarga. Target kita bukanlah lulus dan mendapat ijazah. Tapi memunculkan kemandirian anak dalam belajar.

Klub Sinau - kemandirian belajar

Belajar diartikan sebagai memperoleh pengetahuan dan keahlian melalui pengalaman, pemikiran, atau pengajaran. Implikasinya, ketika anak mandiri dalam belajar, dia akan mandiri dalam memperoleh pengetahuan dan keahlian melalui pengalaman, pemikiran, atau pengajarannya pada diri sendiri. Dengan kata lain: secara otodidak.

Last Updated on Thursday, 20 November 2014 14:37
Read more...
 
Pelajaran Tentang Sebuah Testing PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Friday, 09 March 2012 05:23

Suatu hari seorang ibu mencoba melakukan test matematika pada anaknya yang cerdas, namun masih berusia 7 tahun :

“Kalau seorang anak balita bisa meminum susu sebanyak 200 ml dalam 5 menit, berapa yang dia bisa minum dalam 10 menit?”

 

Jawab si anak :

“300 ml”

 

Si ibu bengong. Dia terkejut, mengapa soal semudah itu tak bisa dijawab dengan benar oleh anaknya. Dia pun mencari tahu :

“Kenapa bisa 300 ml saja?”

 

Si anak :

“Karena anak itu menumpahkan sebagian susunya, sebagian lagi merembes keluar dari mulutnya. Dia main-main dengan susu yang dia minum.”

 

Ooops... benar juga! Itulah yang sering terjadi ketika seorang anak balita minum susu! Berapa kali kita dengar seorang ibu dari anak yang masih balita berkata : “Minum susumu dengan benar! Jangan tumpah-tumpah dan jangan dibuat main-main!”

_____________________

Di kesempatan testing yang lain, pertanyaan si ibu begini :

“Berapa jarak yang bisa ditempuh seorang pejalan kaki dalam waktu 2 jam? Jika dia bisa berjalan sepanjang 1 km dalam 1 jam?”

 

Jawab si anak :

“Tergantung, capek atau nggak orang itu setelah jalan 1 km. Kalau capek dan haus mungkin 2 jam itu dia cuma 1 km saja, karena dia berhenti untuk istirahat dan minum. Atau dia cuma 1.5 km saja karena jalannya tambah pelan.”

 

Si ibu cuma bisa manggut-manggut sambil membenarkan dalam hati, dan mengakui kecerdasan buah hatinya.

 

Read more...
 
Ketika Tiba Waktunya Belajar Tanggung Jawab Dan Komitmen PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Tuesday, 06 March 2012 06:35

Meskipun saya menganut paham Moore tentang better late than early, penghargaan pada kesiapan belajar anak, dan pendapat-pendapat yang lain, namun saya tetap mengajarkan karakter-karakter dan sikap-sikap yang baik. Karakter yang mendukung perkembangan kedewasaan berpikir anak, supaya anak mampu menyesuaikan diri dengan bahagia di lingkungan hidupnya. Dan ini juga ditekankan oleh Moore, bahwa walaupun kita memberi kebebasan pada anak untuk menyatakan kesiapannya belajar formal, namun pendidikan kepribadian dan karakter harus tetap dijalankan sejak dini, sesuai tahap perkembangan anak.

Keinginan dan persetujuan anak saya dalam mengikuti World Education Games saya jadikan sebagai momen penting untuk mempelajari tentang komitmen dan tanggung jawab. Ketika dia telah memilih dan setuju, maka dia harus bertanggung jawab pada pilihannya. Anak saya harus mengikuti prosesnya sampai selesai. Dia harus menyelesaikan hal-hal yang setuju untuk dia awali.

Membaca tentang hal ini, apakah anda membayangkan suatu proses ketat dimana anak saya dengan penuh keterpaksaan menjalani proses ini sendirian dan saya tinggal main perintah sambil ongkang-ongkang? Tentu tidak. Ini adalah proses yang kami jalani bersama, penuh dukungan, dorongan, maupun tarikan, dan ada kelonggaran juga. Semua proses ini kami jalani dengan alami dan rileks.

Kami berkomunikasi tentang kebaikan dan keburukan sehubungan dengan World Education Games ini, kami juga saling membagi semangat, menceritakan keengganan, dan menciptakan suasana rumah yang mendukung interaksi yang sedang sangat intens dalam satu tema ini. Dalam hal yang terakhir ini kami tidak menerima tamu sama sekali, telepon pun saya matikan ketika anak berhadapan dengan tantangan lomba. Tidak masalah, ini hanya untuk 2 hari saja.

Yang ingin saya berikan pada anak adalah kenyataan bahwa dia tidak sendiri, bahwa tanggung jawab itu adalah hal yang menyenangkan untuk dilakukan, bahwa memelihara komitmen itu perlu untuk mencapai cita-citanya.

Medali, sertifikat, maupun hadiah uang (kalau ada) itu bukan hal yang penting. Yang terpenting adalah ketika anak mampu mengendalikan diri untuk keluar dari zona nyamannya demi mencapai cita-citanya. Dunia anak-anak adalah dunia bermain, demikian pula anak saya, dia sangat suka bermain. Bermain adalah area yang sangat nyaman baginya. Namun kemampuan mengarahkan diri untuk melakukan sesuatu yang berbeda, namun baik, harus dipelajari pula.

 
Pedoman Perencanaan Karir Bagi Anak-anak Homeschooling PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Monday, 24 October 2011 10:08

Perencanaan karir terbaik adalah dilakukan sejak dini. Bisa dimulai dengan menyadari tentang minat/ketertarikan dan bakat anak. Sering kita jumpai seorang lulusan sekolah menengah tingkat akhir yang belum sadar tentang karir yang diinginkannya. Sehingga ketika harus memutuskan bidang kuliahnya, dia mengalami kebingungan. Akhirnya, apa yang dilakukannya? Memilih suatu fakultas karena ikut-ikutan teman. Nah ini akan berakibat fatal, misalnya bisa berakibat DO karena nilai yang dia raih sangat buruk, atau kalau tidak begitu akan lulus dengan nilai yang pas-pasan saja. Hhhmmm... tentu susah ya mencari kerja dengan gaji yang baik jika hanya bermodal nilai pas-pasan begini.

Bagaimana dengan anak-anak homeschooling? Kalau anak-anak sekolah formal, untuk membantu mereka dalam pengembangan karir ada istilahnya BK (=Bimbingan Konseling). Kalau anak-anak homeschooling istilahnya : OT (=orang tua). Ya, orang tua homeschooling memang punya banyak peran dalam mendampingi anak supaya memiliki kehidupan bahagia seutuhnya. Dan salah satu kebahagiaan itu bisa didapat jika anak bisa menjalani hidup sesuai kemampuan dan minatnya.

Kalau melihat pekerjaan seorang guru BK, dengan banyak pencatatan, test, dan konseling yang mereka lakukan, jangan gentar dulu wahai orang tua. Tentu saja para guru BK harus melakukan semua itu, karena yang mereka tangani adalah ratusan anak dalam satu sekolah. Kalau tanpa pencatatan, konseling khusus, dan aneka test tersebut mereka tidak akan mampu mengingat tentang bakat dan minat masing-masing anak di sekolah. Tentu akan terjadi kesalahan yang fatal jika mereka hanya mengandalkan ingatan.

Tapi orang tua homeschooling, kita hanya mendidik anak-anak kita saja. Kita malah bertemu mereka setiap hari, berinteraksi dengan mereka secara intens, dan bahkan membantu mereka mengatasi masalah-masalah mereka. Dari intensitas kontak kita dengan anak-anak tentu kita akan tahu bagaimana kondisi mereka, apa kesukaan atau minat mereka, di bidang apa mereka memiliki kelebihan atau kekurangan. Bahkan tanpa test! Test kepribadian itu adalah alat bantu untuk mengenali berbagai aspek kepribadian seseorang yang tidak mampu mengenalinya sendiri.

Lalu apa saja yang perlu dipahami orang tua homeschooling dalam mengantar anak menuju karir yang membahagiakan? Berikut ini saya coba uraikan menurut sebuah diagram perencanaan karir ini :

source: http://www.facebook.com/GiftedHomeschoolersForum

1. What You Love (Apa yang kau senangi)

Ini berkaitan dengan segala hal yang menjadi minat atau kesukaan anak, misalnya video games, olah raga, memasak, musik, dsb.


2. What You Are Good At (Bidang yang bisa dikerjakan anak dengan baik ? bakat)

Misalnya berbakat dalam matematika, berbakat dalam bidang seni lukis, berbakat dalam menyampaikan pendapat secara lisan, berbakat menuangkan imajinasi melalui tulisan. Bakat berbeda dengan minat.

3. What Pays Well (Perusahaan apa yang bisa membayar dengan baik)

Ternyata pengetahuan tentang perusahaan yang sesuai dengan bakat dan minat anak penting untuk membangun karir yang membahagiakan.

Ketiga aspek tersebut menuntut orang tua untuk selalu eksplorasi, untuk menemukan dan memberi yang terbaik bagi anak. Selain mengetahui masing-masing aspek tersebut, perlu juga diketahui akibat dari tiap interaksi.

1. What You Love ? What You Are Good At ? Happy But Poor

Bekerja hanya berdasarkan minat dan bakat, tanpa adanya perusahaan yang bisa membayar dengan baik akan membuat seseorang bahagia tapi miskin.

2. What You Are Good ? What Pays Well ? Rich But Bored

Bekerja berdasarkan bakat di perusahaan yang bisa memberi gaji besar, tapi tanpa minat, akan membuat seseorang kaya tapi mudah bosan dengan pekerjaannya.

3. What You Love ? What Pays Well ? Just A Dream

Bekerja berdasarkan minat di perusahaan yang bisa memberi gaji besar, namun tanpa bakat dan keahlian, adalah mimpi. Sebagai contoh, tak mungkin sebuah perusahaan mau memberi gaji yang besar pada seorang pemain games yang hanya bisa bermain games tanpa keahlian yang lain, karena tidak ada keuntungannya bagi perusahaan tersebut.

4. What You Love ? What Pays Well ? What You Are Good ? WIN

Nah, jika ketiga aspek ini saling berinteraksi bersama, hasilnya adalah WIN, yaitu kemenangan. Jika anak bisa memiliki karir dengan menggabungkan ketiga aspek ini, maka anak akan bahagia, bersemangat, dan kaya. Sebagai contoh, seorang anak yang gemar bermain games, dan dia memiliki kemampuan persuasi secara lisan yang bagus, lalu dia bekerja di perusahaan TV Ginx (channel TV khusus yang membahas dan mereview games), anak itu akan mendapatkan kedudukan yang sangat baik di perusahaan itu, dan itu berarti dia telah mendapatkan karir yang sesuai dengan bakat dan minatnya.

Bagaimana orang tua? Siap untuk mendampingi anak mencapai karirnya? Mari belajar dan berinteraksi secara intens dengan anak.

 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 1 of 5

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 43 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :