Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Kesulitan Belajar
Homeschooling Dalam Masa Sulit PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 28 October 2014 16:38

Kadang guru sekolah tidak masuk kerena sakit atau ada urusan yang sangat mendesak dan penting untuk dilakukan. Pada waktu itu, akan ada guru pengganti atau siswa sekedar diberi penugasan belajar sendiri. Kondisi orangtua home education tidak jauh beda dengan ini. Kadang ada masanya orangtua mengalami sakit, sedang menghadapi pekerjaan yang sifatnya mendesak dan penting, atau tiba-tiba ada kejadian yang membuatnya tak bisa mendampingi anak belajar pada waktu yang seperti biasanya. Apa yang bisa dilakukan?

Anak belajar sendiri melalui online education games

Dengan begitu, orangtua bisa merelakan satu waktunya untuk tidak mendampingi anak. Misalnya, anak bisa diminta untuk belajar sendiri apapun caranya. Bisa juga dengan sejenak menyerahkan proses belajar anak pada orang lain yang bisa dipercaya, misalnya pada orangtua yang lain, atau kakek-nenek, atau bahkan tetangga yang bisa dipercaya. Anak tidak akan kehilangan proses belajarnya. Bukankah belajar bisa dengan siapa pun, dan dimana pun? Itulah belajar ala home education.

Pertama, perlu diingat bahwa home education beda dengan sekolah. Bedanya, tidak harus ada jadwal yang mengikat, tidak harus ada target harian yang harus dicapai, dan perbedaan percepatan belajar anak. Kesadaran akan perbedaan ini membuat orangtua mampu memaklumi bahwa tidak ada keharusan “hadir” dalam semua jadwal belajar anak. Namun juga tidak berarti anak bisa ditinggal terus tanpa pendampingan dalam waktu yang lama.

Jadi untuk orangtua yang baru ingin memulai home education tidak perlu kawatir untuk memulai home education hanya karena kemungkinan menghadapi situasi ini. Ada banyak jalan menuju pembelajaran, dan orangtua bukan satu-satunya sumber belajar. Tertunda belajar akademis 1 hari pun tidak apa-apa, anak-anak home education pasti bisa mengejar ketertinggalannya.

Last Updated on Tuesday, 28 October 2014 17:41
 
Menunda Belajar Formal PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Monday, 05 March 2012 05:55

Tujuan dari home education adalah untuk mewujudkan anak-anak yang sehat tubuh, jiwa, dan semangat. Anak-anak yang digegas untuk belajar formal sebelum mereka siap akan mengalami kecenderungan menurunnya kemampuan akademis di usia remaja. Mereka juga akan cenderung melakukan tindak kejahatan, dan memiliki ketergantungan pada opini temannya (berdasarkan riset yang dilakukan lembaga Dr. Raymond Moore, The Moore Foundation).

Ketergantungan pada opini teman ini akan membawa pada kebiasaan remaja yang kurang baik, seperti perilaku yang tidak sopan, orientasi sex yang salah, narkoba, minuman keras, dan mulainya ketergantungan pada rokok.

Menunda belajar formal menghindarkan anak dari tekanan-tekanan yang timbul karena anak belum siap. Anak yang belum siap secara motorik halus dipaksa untuk menulis indah. Anak yang belum siap berpikir secara logika dipaksa belajar matematika. Anak yang belum begitu menguasai pengucapan dipaksa bersajak. Semua ini menimbulkan tekanan-tekanan di usia yang seharusnya penuh eksplorasi imajinasi. Usia ketika anak menghadapi kekayaan imajinasinya. Padahal imajinasi adalah kemampuan anak yang utama, dan sekaligus modal bagi kepemimpinan yang sukses.

Ketidaksesuaian kenyataan kemampuan anak dan tuntutan belajar formal ini membawa masalah baru di usia remaja. Maka dari sini dibutuhkan kemauan orang tua untuk memahami kemampuan dan kesiapan anak. Penghargaan pada kondisi anak adalah sikap dasar yang dibutuhkan orang tua.

Pertanyaannya adalah, bagaimana orang tua bisa tahu kesiapan atau ketidaksiapan anak dalam menghadapi pembelajaran baru? Penolakan anak untuk belajar adalah indikasi awal. Namun, orang tua tetap harus memperhatikan alasan dari penolakan ini, apakah rasa ketidakmampuan pada diri anak, atau ketidakmauan. Jika anak tidak mau, apakah alasannya? Mungkin rasa malu yang timbul karena merasa diri sudah besar tapi masih tidak bisa bersepeda roda dua, hingga enggan ketahuan orang lain ketika belajar bersepeda? Itu salah satu contoh saja, jika memang ini yang dihadapi, ini bukanlah suatu ketidaksiapan. Untuk hal ini orang tua bisa mengakalinya, misalnya dengan latihan bersepeda ketika hari gelap.

Contoh ketidaksiapan belajar formal adalah cara anak memegang pensil. Ada anak yang bisa langsung tepat dan pas dalam memegang pensil, ada yang masih salah, hingga mengakibatkan dia mengalami kesulitan dalam menulis. Untuk anak yang seperti ini, menunda belajar menulis dan mendahulukan belajar motorik halus dan kasar adalah sangat tepat.

Penundaan belajar formal karena pertimbangan kondisi anak ini jika dilakukan orang tua akan menghindarkan anak dari stress dan pelarian pada persetujuan teman sebaya. Anak akan tumbuh menjadi anak yang bahagia dan penuh kepercayaan diri, mampu membuat pertimbangan tentang yang baik atau yang buruk bagi dirinya sendiri. Alangkah tenangnya memiliki anak yang mampu bertanggung jawab pada kehidupannya. Hanya dibutuhkan pengertian dan kemauan memberi kondisi yang penuh kesiapan pada anak.

 
Membantu Anak Mengembangkan Sikap Bertanggung Jawab PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Sunday, 04 September 2011 10:24

Orang tua memiliki kewajiban mendidik anak menjadi manusia yang bisa bertanggung jawab. Karena melalui kebiasaan bertanggung jawab anak bisa menjadi pribadi dewasa yang mampu berpikir dan bertindak dengan menghormati diri mereka sendiri dan orang lain.

Pendidikan tentang tanggung jawab harus diberikan secara konkret, melalui kejadian yang nyata dialami anak. Begitu juga sebaliknya, mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab juga dilakukan dalam suasana yang konkret.

Orang tua yang sering menolak bertanggung jawab terhadap akibat dari suatu kejadian, akan dengan mudah ditiru anak. Anak yang mengetahui perilaku orang tua tersebut akan menirunya dalam kejadian lain yang melibatkan dirinya. Sebagai contoh, ada orang tua yang mengajak temannya bepergian ke suatu restoran untuk makan siang bersama, dengan mengatakan bahwa dia akan membayar makanannya. Sesudah makan ternyata orang ini menyodorkan tagihan ke temannya itu, sambil menagih pembayaran. Nah, anaknya yang melihat perilaku orang tuanya ini akan dengan mudah menirunya. Di lain waktu, si anak melakukannya terhadap saudaranya.

Bertanggung jawab sebenarnya juga melibatkan proses memahami perasaan orang lain. Bertanggung jawab harus diajarkan sejak dini, karena jika tidak maka akan menjadi bibit kejahatan ketika anak berusia dewasa. Banyak tindak kejahatan terjadi karena si pelaku tidak bisa bertanggung jawab. Sebut saja korupsi, si pelaku tak bisa memikirkan perasaan orang lain ketika dia melakukan korupsi, dia tak bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Atau kasus ayah yang meninggalkan keluarganya untuk menikah lagi dengan gadis yang muda-belia, ini terjadi karena si ayah tidak bisa bertanggung jawab, tidak bisa menghormati perasaan orang lain.

Dengan berbagai contoh kasus ini, akankah kita sebagai orang tua tetap menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab? Karena apa yang kita lakukan ditiru oleh anak.

Satu hal lagi, bahwa anak seringkali tidak bisa membedakan ketika orang tuanya sedang bergurau atau tidak. Ini dialami anak teman saya. Orang tuanya sering bergurau pura-pura tidak mau bertanggung jawab, padahal secara diam-diam dia bertanggung jawab. Suatu kali anaknya meniru, tidak mau bertanggung jawab dengan gaya bergurau, namun yang dilakukan si anak benar-benar adalah perilaku yang tidak bertanggung jawab, bukan sekedar gurauan seperti yang dilakukan orang tua. Nah, mari mempertimbangkan segala gurauan kita.


Apa Bertanggung Jawab Itu?

Tanggung jawab bukanlah sikap bawaan sejak lahir. Tanggung jawab dibentuk dari waktu ke waktu. Orang yang bertanggung jawab mampu berbuat baik walaupun tidak ada yang melihat, karena mereka memiliki pemahaman tentang kebenaran, memiliki keberanian dan pengendalian diri untuk berbuat baik, bahkan ketika ada godaan untuk berbuat tidak baik. Belajar untuk bertanggung jawab termasuk juga belajar untuk :

  • Menghormati dan menunjukkan kasih sayang bagi orang lain.

  • Mempraktikkan kejujuran sebagai suatu kebiasaan setiap waktu.

  • Menunjukkan keberanian dalam memegang teguh prinsip-prinsip kebaikan.

  • Mengembangkan kontrol diri dalam bertindak untuk menyatakan prinsip-prinsip hidup yang baik.

  • Penguasaan Diri


Mengasihi dan Menghormati Orang Lain Sebagai Wujud Tanggung Jawab

Sebagai bagian dari bertanggung jawab, anak harus menunjukan kepedulian dan kasih sayang pada orang lain. Tidak peduli siapapun orang itu, apa rasnya, apa warna kulitnya, bentuk matanya, bagaimana ekonominya, maupun agamanya. Anak harus mengasihi orang lain untuk bekal supaya dia bertanggung jawab. Banyak kasus orang dewasa yang tak mampu bertanggung jawab, korupsi di tempat kerja dengan alasan : “Tidak masalah, yang saya korupsi orang kaya kok, dia tidak akan merasa kehilangan.” Anggapan ini salah, dan ini bukan perilaku yang bertanggung jawab. Akhirnya dengan modal pemikiran seperti ini orang tersebut melakukan kejahatan korupsi.

Juga, tanpa tanggung jawab, anak bisa dengan mudah meninggalkan rumah yang berantakan oleh mainannya dengan alasan : “Tidak apa-apa, ibuku kan kaya, bisa menggaji pembantu untuk membereskan mainanku.” Ini juga bukan tanggung jawab. Tanggung jawab adalah memikirkan dan menghormati perasaan ibu atau pembantu yang lelah, dan karenanya akan membereskan mainannya sendiri.

Mengasihi dan menghormati orang lain juga bisa dilatih melalui rasa duka yang dialami oleh keluarga dekat. Misalnya ketika nenek sedang bersedih karena temannya meninggal, maka kita bisa mengingatkan anak bagaimana perasaannya ketika peliharaan kesayangannya meninggal, ada rasa kehilangan yang menimbulkan kesedihan. Lalu setelah anak bisa memahami perasaan neneknya, kita bisa mulai mengajarkan tentang cara menghibur nenek.


Kejujuran

Kejujuran berarti mengatakan yang sebenarnya. Ini berarti tidak menyesatkan orang lain untuk keuntungan kita sendiri. Ini juga berarti berusaha untuk membuat keputusan, terutama yang penting, berdasarkan bukti dan bukan prasangka. Kejujuran mencakup berurusan dengan orang lain dan bersikap jujur dengan diri kita sendiri. Untuk memahami pentingnya jujur kepada orang lain, anak-anak kita perlu belajar hidup bersama yang tergantung pada kepercayaan. Tanpa kejujuran, tidak mungkin ada kepercayaan satu sama lain. Jujur dengan diri kita melibatkan pengakuan pada kesalahan kita sendiri, bahkan ketika kita harus mengakuinya kepada orang lain. Ini termasuk kritik terhadap diri sendiri. Intinya adalah untuk belajar dari kesalahan kita dan melakukan yang terbaik untuk memperbaikinya.


Keberanian

Keberanian adalah mengambil posisi dan melakukan apa yang benar, bahkan dengan risiko kehilangan sesuatu. Ini berarti tidak ceroboh atau pengecut. Ini termasuk keberanian fisik, keberanian intelektual untuk membuat keputusan berdasarkan bukti, dan keberanian moral untuk membela prinsip-prinsip. Keberanian bukan berarti tidak pernah takut. Keberanian juga termasuk berani mencoba mengatasi ketakutan, seperti takut gelap. Tapi anak-anak juga perlu belajar bahwa mereka memiliki hak untuk merasa takut. Keberanian moral ini sangat penting terutama pada saat anak menjadi remaja. Mereka harus berdiri melawan tekanan teman sebaya untuk melakukan hal yang salah, seperti menggunakan obat-obatan narkoba.


Kontrol Diri

Kontrol diri adalah kemampuan untuk menolak perilaku yang tidak pantas dan untuk bertindak secara bertanggung jawab. Hal ini terkait dengan semua aspek dari tanggung jawab yang disebutkan di atas, termasuk penghargaan dan kasih sayang bagi orang lain, kejujuran, dan keberanian. Kontrol diri melibatkan ketekunan dan memelihara komitmen untuk jangka panjang. Kontrol diri juga berkaitan dengan emosi, seperti kemarahan, dan mengembangkan kesabaran.


Rasa Menghargai Diri Sendiri

Orang yang memiliki harga diri memilik kepuasan dalam perilaku yang tepat. Mereka tidak perlu menjatuhkan orang lain atau memiliki banyak uang untuk menghargai diri mereka sendiri. Orang yang menghargai diri sendiri juga melihat keegoisan, kehilangan kontrol diri, kecerobohan, pengecut, dan ketidakjujuran sebagai salah dan tidak layak bagi mereka. Ketika mereka dewasa, dan telah belajar bertanggung jawab, mereka akan mengembangkan hati nurani yang baik untuk membimbing mereka. Selain itu, orang yang menghormati diri mereka menghormati kesehatan dan keselamatan mereka sendiri pula.

Mereka juga tidak mau dimanipulasi oleh orang lain. Kesabaran atau toleransi tidak berarti membiarkan orang lain memperlakukan kita semena-mena. Sementara kita membantu anak-anak memiliki standar tinggi untuk diri mereka sendiri, kita juga perlu membiarkan mereka tahu bahwa kegagalan tidak akan mengakibatkan rasa malu ketika kita telah melakukan yang terbaik. Misalnya, kehilangan kemenangan ketika mereka telah melakukan yang terbaik, karena lawan memang memiliki kondisi yang lebih baik, perlu dijelaskan pada anak bahwa ini bukanlah suatu aib.


Menumbuhkan tanggung jawab pada anak memang bukan proses yang cepat dan instant. Bimbingan dan contoh nyata dari orang tua tetap diperlukan secara konsisten. Kekonsistenan adalah syarat mutlak yang tak bisa ditinggalkan. Namun ketika sikap tanggung jawab telah terbentuk dalam diri anak, akan tampak pula pribadi dewasa yang menyenangkan. Pendidikan homeschooling yang menggabungkan aspek akademis dan personality dalam keluarga sangat memungkinkan pembentukan sikap bertanggung jawab ini. Namun itu bukan berarti sikap ini akan terbentuk secara otomatis dalam keluarga home education, keluarga, orang tua dan anak tetap harus mengusahakan pembelajaran karakter ini secara bersama-sama, jujur, dan konsisten.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:38
 
Belajar Matematika Dengan Efektif PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Saturday, 06 August 2011 14:00

Beberapa waktu lalu ada yang menanyakan pada saya, kenapa anak saya kok kelihatannya pintar matematika? Apa materi yang saya pakai? Bagaimana belajarnya?

Nah ketika saya tunjukkan materi dari CIMT yang saya pakai, si penanya terheran-heran, karena materi CIMT bukanlah buku penuh warna dengan layout khas buku anak-anak yang menarik. Materinya gratis, berupa tulisan hitam-putih dengan angka-angka, dan gambar yang hitam putih pula tanpa warna. Lalu bagaimana anak saya bisa tertarik pada matematika?

Banyak orang tua berusaha sekuat tenaga supaya anak suka dengan matematika. Mereka mendaftar pada belajar online matematika dengan tampilan yang khas anak-anak, mereka membeli alat peraga, mereka membeli CD interaktif pembelajaran matematika, dll. Semuanya itu tak dilarang. Tapi bagaimana dengan orang tua yang budgetnya sangat minim? Bagaimana homeschooling bisa untuk semua anak jika harus berbayar mahal begitu? Menjadi orang tua homeschooling tidak dituntut untuk kaya atau punya banyak uang. Menjadi orang tua homeschooling hanya dituntut untuk kreatif, mau belajar, dan mau berusaha.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:39
Read more...
 
Kapan Mengajarkan Anak Tentang Kecakapan Hidup? PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Saturday, 18 June 2011 12:49

Mempelajari kecakapan hidup adalah salah satu proses pelajaran yang penting dalam keseharian anak-anak homeschooling. Karena melalui kecakapan hidup yang memadai, anak-anak yang telah beranjak dewasa akan mampu mandiri melakukan tugas-tugasnya dalam mengupayakan kebersihan pribadi, pemenuhan kebutuhan makanannya, bahkan kedisiplinannya dalam mengatur waktu.

Saya salut karena banyak orang tua homeschooling, walaupun telah memiliki pembantu rumah tangga, tetap mengajarkan kecakapan hidup ini pada anak-anak mereka. Banyak juga orang tua homeschooling yang memutuskan untuk tidak memakai pembantu rumah tangga agar anak bisa mempelajari kecakapan hidup ini dengan maksimal.

Namun masih sering ada permasalahan dalam pelajaran kecakapan hidup ini, orang tua seringkali bingung, “Kecakapan hidup mana yang harus saya ajarkan dulu? Apakah mengajarkan kecakapan hidup yang ini tidak terlalu dini bagi anak saya? Apakah anak saya sudah terlambat dalam mempelajari kecakapan hidup ini?” Kebanyakan pertanyaannya adalah tentang “timing” atau ketepatan waktu mempelajarinya.

Saya mencoba membuat petunjuk tentang kapan suatu kecakapan hidup mulai dipelajari. Tentu saja tiap anak berbeda kecepatannya dalam belajar. Dan tiap keluarga beda kondisinya. Namun perkiraan usia ini cukup membantu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

Usia 2 - 3

  • Membantu membereskan tempat tidur

  • Membereskan mainannya dengan tetap dalam pengawasan orang tua

  • Memasukkan baju kotor ke tempatnya

  • Memberi makan binatang peliharaan di bawah pengawasan orang tua

  • Membantu orang tua membersihkan tumpahan dan kotoran

  • Membersihkan debu di bawah pengawasan orang tua

Usia 4 - 5

  • Berpakaian sendiri dengan sedikit bantuan dari orang tua

  • Membereskan tempat tidur dengan sedikit bantuan dari orang tua

  • Membawa barang-barang pribadi dari mobil ke rumah, dan sebaliknya

  • Mengatur meja makan dengan pengawasan orang tua

  • Membereskan meja makan setelah makan dengan pengawasan orang tua

  • Membantu orang tua menyiapkan makanan

  • Membantu orang tua membawa barang belanjaan yang ringan

  • Memasangkan kaos kaki di baju yang dilipat

  • Menjawab telepon dengan pendampingan orang tua

  • Bertanggung jawab pada makanan dan minuman binatang peliharaan

  • Menggantung handuk setelah dipakai

  • Menyapu lantai


Usia 6 - 7

  • Membereskan tempat tidur dan membersihkan kamar tiap hari

  • Menggosok gigi dengan benar

  • Menyisir rambut

  • Memilih pakaian dan berpakaian sendiri

  • Menulis ucapan terima kasih dengan bimbingan orang tua

  • Bertanggung jawab pada makanan, minuman, dan melatih peliharaan

  • Membersihkan debu di kamar pribadi

  • Melipat baju dengan bimbingan orang tua

  • Memasukkan baju yang telah dilipat dalam lemari baju

  • Membantu menyiapkan makanan dengan pengawasan

  • Mengosongkan tempat sampah indoor

  • Menjawab telepon dengan bimbingan orang tua

Usia 8 - 11

  • Mengurus kebersihan diri pribadi

  • Menjaga kebersihan kamar pribadi

  • Bertanggung jawab pada tugas pelajaran

  • Bertanggung jawab pada barang-barang pribadinya

  • Membuat ucapan terima kasih pada pemberi hadiah

  • Bangun tidur dengan menggunakan alarm jam

  • Mencuci piring

  • Mencuci mobil dengan bimbingan orang tua

  • Menyiapkan makanan yang mudah untuk dirinya sendiri

  • Membersihkan kamar mandi dengan bimbingan orang tua

  • Menyapu daun-daun yang berjatuhan di halaman

  • Belajar menggunakan mesin cuci

  • Mengenali nomer telepon dari layar telepon dan menjawabnya bila perlu


Usia 12 - 13

  • Peduli pada kebersihan pribadi, kepemilikan, dan tugas pelajaran

  • Bisa menulis undangan dan ucapan terima kasih

  • Memasang alarm jam sendiri

  • Menangani barang-barang pribadi, misalnya charge baterai HP, dsb

  • Mengganti sprei tempat tidur pribadi

  • Menjaga kebersihan kamar dan rutin membersihkan seluruh bagian kamar

  • Mengganti lampu yang rusak

  • Membersihkan rumah dari debu dan mencuci piring

  • Membersihkan cermin

  • Memotong rumput dengan bimbingan orang tua

  • Menjaga anak yang lebih kecil

  • Menyiapkan makanan untuk keluarga dengan bimbingan orang tua

Usia 14 - 15

  • Bertanggung jawab pada semua tugas di tahap usia sebelum ini

  • Bertanggung jawab pada buku-buku pinjaman

  • Mengerjakan pekerjaan rumah tanpa disuruh

  • Membersihkan halaman jika dibutuhkan

  • Menjaga anak yang lebih kecil

  • Menyiapkan makanan mulai dari berbelanja hingga menyiapkan di meja makan

  • Membersihkan kaca dengan pengawasan orang tua

Usia 16 - 18

  • Bertanggung jawab pada semua tugas di tahap usia sebelumnya

  • Bertanggung jawab untuk mendapatkan uang jajan

  • Bertanggung jawab dalam belanja pakaian pribadi (dalam hal memilih pakaian dan mempertimbangkan harganya dengan kemampuan keluarga)

  • Bertanggung jawab pada pemeliharaan kendaraan yang dia pakai (bensin, oli, perbaikan, dan kebersihannya)

  • Melakukan pekerjaan rumah sehari-hari

  • Membersihkan halaman jika diperlukan

  • Menyiapkan makanan untuk sekeluarga mulai dari belanja hingga menyajikannya jika dibutuhkan

  • Membersihkan bagian peralatan rumah, seperti misalnya membersihkan kulkas.


Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:40
 
<< Start < Prev 1 2 Next > End >>

Page 1 of 2

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 43 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :