Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Aktivitas Klub Sinau
Liputan Pers : Jadi Ibu Sekaligus Guru PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Saturday, 21 May 2011 14:53

Jawa Pos, For Her, Kamis 19 Mei 2011

Klub Sinau, Komunitas Ibu-ibu Homeschooling

Orang tua di Indonesia yang menerapkan homeschooling kepada anak mereka bisa dihitung dengan jari. Salah satunya dilakukan para ibu di komunitas homeschooling Klub Sinau Jawa Timur. Mereka lebih memilih untuk mengajar anak mereka sendiri yang kebanyakan masih kecil meski tidak memiliki latar belakang guru.

Ibu-ibu ini memilih untuk menerapkan homeschooling kepada anak mereka. Itu merupakan model pendidikan alternatif dengan menggunakan rumah sebagai basis pendidikan. Keluarga memegang semua tanggung jawab pendidikan. Kebanyakan anak anggota Klub Sinau masih kecil. Mereka menjadi orang tua sekaligus guru yang kreatif tanpa memanggil pengajar. Mereka merancang sendiri kurikulum pendidikan.

“Setiap rumah atau keluarga akan memiliki cara yang berbeda,” kata Maria Magdalena, 36, salah satu pendiri Klub Sinau Jawa Timur. Ibu Pandu Husain, 7, itu sebisa-bisanya menciptakan rasa senang dalam belajar.

Sejak Pandu berusia tiga tahun, Maria mulai mencari informasi melalui internet dan bergabung dengan mailing list orang tua yang menerapkan homeschooling. Dari situ, dia mendapat informasi tentang cara dan bahan pembelajarannya. Dia juga rajin ke toko buku atau melihat buku elektronik sekolah untuk memantau perkembangan pendidikan dari buku-buku soal.

Maria tidak mau menerapkan pengajaran seperti di sekolah yang kaku. “Saya ingin, dia belajar berdasarkan kesenangannya,” tutur istri Budiman Husain tersebut. Dia memanfaatkan kesukaan anaknya terhadap robot untuk mengajari aritmatika. Dia menciptakan worksheet soal aritmatika berbentuk robot. Misalnya, kepala robot berbentuk kotak yang diisi dengan dua angka. Tangan dan badannya juga dibentuk dari angka. Dengan demikian, Pandu senang mengerjakan tugasnya.

Maria juga mengenalkan lingkungan sekitar kepada Pandu. Misalnya dia mengenalkan ketua RT, RW, dan satpam serta tugas mereka kepada putranya. Suatu ketika, Pandu penasaran saat melihat seorang pria berseragam yang bolak-balik melewati rumah dengan sepeda motor. “Pandu bertanya, kok orang itu lewat terus di depan rumah. Saya pun menjelaskan bahwa dia adalah satpam. Saya juga menjelaskan tugasnya,” tutur perempuan kelahiran 25 Mei 1975 itu.

Cara berbeda diterapkan Lyly Fresty, 29, anggota Klub Sinau lainnya. Dia sama sekali tidak mau membebani putrinya, Fairly, untuk bisa lancar menulis dan membaca di usianya yang masih empat tahun. Tanpa disangka, Fairly mengenal abjad saat berusia dua tahun. Putrinya tersebut bahkan bisa menulis huruf. “Dia suka menggambar. Bagi dia, menulis adalah menggambar. Tapi, ya gitu, urutan menulisnya tidak sama dengan orang kebanyakan,” ujarnya.

Lyly tidak tahu kapan pastinya Fairly bisa membaca. Sejak putrinya berusia dua tahun, dia memenuhi kamar putrinya itu dengan beragam buku bacaan. Fairly suka membuka buku dan berusaha membaca sendiri. Kadang, Fairly minta ditemani dan dibacakan.

“Saya percaya bahwa dia bisa belajar baca sendiri. Saya tidak akan memarahi dia walaupun salah menulis. Nanti dia down. Saya kasih saja contohnya, biar dia menirukan,” tutur perempuan yang tinggal di Manyar Sabrangan, Surabaya, tersebut.

Ameilia Hernawati, 27, yang putranya baru berusia 19 bulan, tentu menerapkan perlakuan yang berbeda. Dia tidak memberikan mainan khusus untuk putranya, Adnan Bintang Tauladan. Adnan sangat suka mengeluarkan benda dari tempatnya, kemudian memasukkannya lagi. “Bagi dia semua barang adalah mainan. Saya hanya pastikan bahwa barang yang dimainkan itu aman,” tuturnya.

Ameilia mengungkapkan lebih senang menerapkan homeschooling. Dia takut jika tubuh sang putra kaget dengan jam masuk sekolah. “Jika dia tidak terbiasa bangun untuk sekolah, kasihan alarm tubuhnya yang belum terbiasa. Selain itu, belum tentu sekolah formal memberikan keterampilan yang dibutuhkan mereka,” ungkapnya.

Lalu, bagaimana dengan pembelajaran sosialisasi? Maria menegaskan, bahwa homeschooling justru bisa membuat anak belajar bersosialisasi secara vertikal dengan orang-orang yang lebih tua. Sorenya, anak bisa belajar bersosialisasi secara horizontal dengan bermain bersama anak sebayanya.

“Coba lihat anak-anak di sekolah umum. Belum tentu mereka berani ketika diminta membayar sendiri ke kasir saat belanja ke supermarket. Itu terjadi karena mereka tidak terbiasa,” jelas Maria.

Menurut Lyly, Fairly pernah ikut PAUD, lalu berhenti. “Dia nggak mau lagi. Mungkin, dia terbiasa bebas berkreasi di rumah. Dia down saat ada guru yang memarahi dirinya dengan cara yang kurang tepat,” katanya.

Berdasar hal itu pula, Maria akan mengijinkan putranya memasuki pendidikan formal bila kepribadiannya sudah matang. “Jadi, kalau suatu saat dibilang bodoh hanya karena perbedaan persepsi, dia tahu cara meresponnya tanpa harus down,” terangnya. Dia menuturkan belum tahu rencana ke depan. “Jalani saja (homeschooling) yang sudah ada,” imbuhnya.

 

Ayah-Ibu Harus Kompak

Ibu bukan satu-satunya yang memegang peran penting dalam homeschooling. Ayah dan ibu harus saling melengkapi agar pendidikan tersebut berlangsung dengan baik. Para suami memang sibuk bekerja pada pagi hari, tetapi mereka bisa menemani putra mereka pada sore atau malam hari.

Maria mencontohkan, sang suami, Budiman Husain, 35, yang kerap menyempatkan waktu untuk mengasuh anaknya. Sepulang kerja, Budiman bisa bermain dengan anak. Jika ada waktu senggang, Budiman menemani sang aanak menonton film dari Discovery Channel sambil menjelaskan sejarahnya. Misalnya, film perang yang menggunakan pesawat. Setelah film selesai, sang suami menjelaskan segala sesuatu tentang pesawat.

“Dia ahli di bidang itu. Dia suka sekali menjelaskan penemu pesawat, tahun penemuannya, hingga perkembangannya saat ini,” kata perempuan berambut panjang tersebut.

Hal serupa dilakukan oleh Achmad Jalaluddin, 35, suami Lyly Fresty. Achmad lebih suka menemani Fairly membaca buku cerita. Saat membaca, Fairly sering tertarik pada wujudnya secara langsung. Contohnya, saat membaca buku tentang lebah, Fairly yang tertarik akan benda nyata langsung mengajak ayahnya keluar untuk mencari lebah.

“Fairly akan puas sampai ketemu lebah yang asli. Jadi, dia bisa tahu oh tempat kantong lebah itu di situ. Dia juga suka saya ajak melihat bulan meski dari jauh,” papar Achmad.

Akhmad Guntar, 32, suami Ameilia Hernawati, lebih suka diganggu sang buah hati. “Saya kan jarang ketemu dia, jadi wajar jika saya bermain dengannya,” tuturnya. Putranya senang menjalankan kebiasaan sang ayah, termasuk menghidupkan mobil. Ketika Akhmad sampai di rumah, putranya langsung mengambil kunci mobil dan menarik-narik tangan ayahnya. “Tandanya, dia pingin nyalain mobil ini,” tutur Akhmad.

Putranya, Adnan Bintang Tauladan, tidak hanya meminta diantar ke dalam mobil. Dia akan menjalankan semua proses menyalakan mobil satu per satu. Mulai membuka pintu, memasukkan kunci ke tempatnya, hingga menyalakannya.

“Mesin harus nyala, setelah itu dia memainkan setir dan mematikan mesin mobil. Kalau nggak gitu, bagi dia, prosesnya belum selesai dan tidak akan mau keluar,” tutur Akhmad.

Akhmad juga masih harus meladeni ajakan sang anak memainkan iPad saat mengerjakan pekerjaan kantor di rumah. “Dia suka dengan semua tombol, termasuk layar iPad ini,” kata Akhmad sambil mengawasi Adnan bermain. Bagaimanapun, ayah satu putra itu harus melayani permintaan sanga nak. Baru kemudian dia bebas bekerja kembali. (war/c12/dos)

 

Anggota Gantian Ngajar

Komunitas Homeschooling Klub Sinau merupakan komunitas tempat para orang tua homeschooling berkumpul. Pencetusnya adalah Maria Magdalena, Retno Wulandari, Ririn Wiandari, dan Annisa Wardani. Mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang tertarik akan pendidikan alternatif tersebut. Mereka berkenalan melalui mailing list. Hubungan berlanjut lewat telepon dan sering bertukar informasi.

Akhirnya, mereka tertarik untuk kopi darat kali pertama di rumah Maria di Sidoarjo pada 3 November 2007. Saat itulah mereka sepakat membentuk komunitas Klub Sinau Sidoarjo. Nama Sidoarjo diambil karena mereka tinggal di Sidoarjo. Jumlah anggota terus bertambah hingga meluas di seluruh Jawa Timur (Jatim) hingga nama komunitas berubah menjadi Klub Sinau Jawa Timur.

Para anggota komunitas tersebut kini berjumlah 30 orang. Mereka berasal dari kota Sidoarjo, Kediri, Lumajang, Jember, Mojokerto, dan Surabaya. Setiap bulan sekali mereka bertemu di wilayah sekitar Surabaya dan Sidoarjo. “Kami bergantian bertemu dari satu rumah ke rumah anggota lainnya. Tidak ada tanggal khusus. Kalau sebagian besar kami bisa, ya kami ketemu,” jelasnya saat ditemui di Taman Baca Cito Minggu (15/5).

Selain itu, mereka sering mengadakan field trip untuk anak-anak. Beberapa tempat yang pernah mereka kunjungi bersama adalah peternakan kelinci di Sukodono, pada Desember 2007, Taman Purwodadi Malang, Monkasel Surabaya, dan Mpu Tantular pada tahun yang sama. Terakhir mereka bertemu di Taman Baca Cito pada Minggu (8/5). Tempat tersebuat menjadi salah satu tempat indoor favorit bagi mereka berkumpul. Saat itu sedang diadakan pelatihan menggambar untuk anak-anak.

“Guru nggambarnya adalah orang tua anggota Klub Sinau. Nggak ada biaya, dia sukarela mau ngajarin anak-anak,” tutur Maria.

Pada pertemuan serupa pengisi acara memang tidak lain adalah orang tua anggota komunitas tersebut. Mereka dengan sukarela mengajar dengan kemampuan masing-masing. Ada yang pintar memasak, menggambar, membuat barang kerajinan, dan masih banyak lagi. Bulan depan mereka sepakat untuk mengadakan pelatihan membuat es krimdi salah satu rumah anggota. Diantara anggota, tidak ada iuran. Kalaupun pergi field trip, setiap keluarga membayar sendiri-sendiri.

Komunitas tersebut pernah vakum pada Maret 2010 karena kesibukan para anggota. Kemudian Maria dibantu oleh Lyly Fresty yang baru bergabung pada September 2009 dan Ameilia Hernawati yang bergabung pada Oktober 2010 mengaktifkan kembali komunitas tersebut. Sejak saat itulah komunitas homeschooling itu aktif kembali hingga sekarang. (war/c8/dos)

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 17:44
 
Dari Acara Belajar Menggambar PDF Print E-mail
Written by Webmaster   
Monday, 09 May 2011 17:35

Kemarin, 8 Mei 2011, Klub Sinau mengadakan acara "Belajar Menggambar Bersama" untuk tingkat dasar. Bersama Kak Ferry Sinaro (seorang pelukis, bersamaan dengan acara ini Kak Ferry sedang mengadakan pameran lukis di Balai Pemuda - Surabaya), anak-anak Klub Sinau belajar bersama menuangkan imajinasi ke dalam gambar. Di kesempatan belajar bersama ini ibu-bapaknya juga ikut belajar, supaya bisa mendampingi anak dalam belajar menggambar sepulang dari TBM@Mall di Cito-Waru ini.

"Semua berawal dari garis!" begitu kata Kak Ferry ketika mengawali acara belajar menggambar ini.

 

 

Terima kasih untuk Kak Ferry dan keluarga yang telah meluangkan waktunya dan menurunkan ilmunya pada kami, sukses selalu Kak!

Untuk foto dengan ukuran yang lebih besar bisa lihat di Facebook Klub Sinau

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 17:45
 
Dari Piknik dan Sharing Keluarga Homeschooling PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Tuesday, 19 April 2011 11:11

 

Keluarga homeschooling Jawa Timur semakin mantap dan dewasa, itulah yang terekam dari perbincangan sharing hari ini (17 April 2011, di Museum Mpu Tantular - Sidoarjo). Tidak ada lagi pembicaraan tentang apa, bagaimana, dan kapan homeschooling, atau tentang sosialisasi. Yang ada adalah perbincangan keseharian praktek homeschooling, serta testimoni homeschooling. Di kesempatan kali ini kami juga mendapat tamu dari Dinas Pendidikan Jawa Timur, Pak Sulistyanto Soejoso.

Pak Sulis memberi penekanan pada keistimewaan homeschooling untuk menjawab tantangan masa depan Indonesia dan carut marutnya pendidikan formal. Ini menandakan semakin dibutuhkannya pendidikan mandiri melalui homeschooling, karena pendidikan formal tak lagi dipandang mampu memberikan pendidikan terbaik.

Dibahas juga mengenai pentingnya menghilangkan mind set “schooling” selama proses belajar keluarga. Sebab proses “schooling” hanya akan menimbulkan kejenuhan baik pada anak maupun orang tua yang pada akhirnya menjadikan proses belajar tidak lagi menyenangkan dan efektif. Belajar seharusnya diterapkan pada keseharian aktivitas keluarga, sehingga ada koneksi yang baik antara materi pelajaran dengan kehidupan nyata.

Disebarkan pula ide bahwa homeschooling dan sekolah adalah 2 hal yang berbeda, tidak bisa diperbandingkan advantage/disadvantage-nya karena keduanya adalah benar-benar berbeda, dan keluarga bebas memilih diantara keduanya.

Teman Klub Sinau yang datang hari ini benar-benar tersebar se-Jawa Timur, dari Sidoarjo, Surabaya, Lumajang, dan Kediri. Sungguh kebersamaan yang menyenangkan. Kami juga menginginkan bertambah luas dan intensifnya kegiatan Klub Sinau hingga keluarga yang berkumpul di dalamnya benar-benar mendapat manfaat yang optimal.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 17:49
 
Dari Kopdar Klub Sinau, 3 Okt 2010 PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Monday, 04 October 2010 14:58

Lama tidak ketemuan jadi kangen dengan suasana menyenangkan yang ada di antara keluarga home education. Kemarin Minggu datang juga kesempatan ini. Acara Kopdar Klub Sinau yang rame ini dihadiri oleh mbak Lita beserta suami dan ketiga anaknya, mbak Nike dengan Q, mbak Lyly dengan suami dan putrinya, pak Yohanes, mbak Endang dengan rombongan lengkap, pak Handi dengan istri dan anaknya, mbak Ameilia dengan teman dan anaknya, mbak Ika Rais, mbak Lisa dengan rombongan, lalu pak Budi dengan keluarga lengkap, mbak Wulan yang juga lengkap rombongannya, mbak Arini yang sendirian saja, dan saya sendiri yang juga berombongan lengkap. Kopdar ini tidak hanya dihadiri oleh keluarga home education Sidoarjo-Surabaya saja, tapi juga dari Kediri (WOW!)

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:09
Read more...
 
Klub Sinau Dan HSLDA PDF Print E-mail
Written by Webmaster   
Friday, 01 October 2010 07:21

Terhitung akhir September 2010, website Klub Sinau ini menjadi pusat informasi mengenai home education/homeschooling Indonesia di HSLDA (Homeschool Legal Defense Association). Itu artinya, dimanapun dan siapapun yang mencari informasi mengenai home education Indonesia pada HSLDA, maka akan terhubung dengan Klub Sinau.

Sebetulnya apa itu HSLDA? Penjelasan keseluruhan tentang HSLDA bisa dilihat di link ini: Homeschool Legal Defense Association

Sedangkan untuk link Klub Sinau di website HSLDA : http://www.hslda.org/hs/international/Indonesia/default.asp

Semoga Klub Sinau bisa menyediakan informasi bagi seluruh pihak yang ingin mengetahui tentang home education.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:10
 
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 Next > End >>

Page 4 of 5

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 20 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :