







| Home Education Memberikan Waktu, Bukan Menghabiskan Waktu |
|
|
|
| Written by Maria Magdalena |
| Monday, 23 April 2012 05:44 |
|
Pada umumnya, perjalanan awal home education dipenuhi dengan penjadwalan aktivitas anak. Orang tua masih mengacu pada aktivitas persekolahan yang memakan waktu dari pagi hingga sore. Orang tua menyiapkan lembar penjadwalan, things to do list, daftar check list aktivitas harian, untuk memastikan bahwa anak tidak melewatkan satu waktu pun melakukan aktivitas belajarnya. Di lain pihak, banyak pertanyaan dari orang yang belum paham tentang home education, yaitu : "apakah home education akan menghabiskan waktu orang tua? Apakah dengan home education orang tua jadi tidak punya waktu lagi untuk dirinya sendiri karena disibukkan dengan urusan pendidikan anak?" Bisa jadi demikian, jika yang dihadapi tiap hari adalah jadwal, thing to do list, dan check list harian yang penuh rencana aktivitas home education dari pagi hingga sore. Padahal, jika ditelusuri, dijalankan, dan didapatkan esensi dari home education, justru home education mampu memberikan banyak waktu bagi anak. Karena proses belajar formal di rumah hanya untuk dirinya sendiri, maka anak home education bisa cepat menyelesaikan pelajarannya, hingga mempunyai banyak waktu untuk dirinya sendiri. Dengan catatan bahwa anak tidak dijejali berbagai aktivitas oleh orang tua. Disamping itu, waktu yang cukup bagi anak untuk melakukan aktivitas yang menjadi passion pribadinya itu sangat penting. Tidak ada takaran pasti tentang jumlah waktu yang bisa kita sediakan untuk mereka karena kebutuhan tiap anak berbeda. Mengapa ini penting? Karena dengan waktu untuk sendiri ini anak akan b isa mengembangkan kreativitasnya, menyalurkan kecerdasan pribadinya, dan mengembangkan otoritasnya. Tidak seperti anak yang selalu dikendalikan jadwal belajar ini-itu tiap waktunya. Anak yang selalu dikendalikan jadwal belajar dan aktivitasnya tidak akan mampu mengembangkan kreativitas yang berasal dari pemikiran originalnya, juga tidak bisa belajar menyalurkan otoritasnya. Anak yang demikian akan selalu belajar bahwa dirinya diatur oleh orang lain, dia tidak bisa belajar mengatur dirinya sendiri. Nah, pada proses home education, sangat dimungkinkan bagi anak untuk belajar menyalurkan otoritas pribadinya dan originalitasnya jika dibandingkan anak sekolah formal yang bersekolah dari pagi hingga sore, lalu dilanjutka dengan les ini dan itu. Maka, marilah keluarga home education memanfaatkan kondisi ini supaya anak bisa belajar untuk mengendalikan diri dan otoritasnya dan tetap mengembangkan kreativitasnya yang original. |
| Last Updated on Monday, 23 April 2012 06:56 |
