Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Pelajaran Tentang Sebuah Testing PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Friday, 09 March 2012 05:23

Suatu hari seorang ibu mencoba melakukan test matematika pada anaknya yang cerdas, namun masih berusia 7 tahun :

“Kalau seorang anak balita bisa meminum susu sebanyak 200 ml dalam 5 menit, berapa yang dia bisa minum dalam 10 menit?”

 

Jawab si anak :

“300 ml”

 

Si ibu bengong. Dia terkejut, mengapa soal semudah itu tak bisa dijawab dengan benar oleh anaknya. Dia pun mencari tahu :

“Kenapa bisa 300 ml saja?”

 

Si anak :

“Karena anak itu menumpahkan sebagian susunya, sebagian lagi merembes keluar dari mulutnya. Dia main-main dengan susu yang dia minum.”

 

Ooops... benar juga! Itulah yang sering terjadi ketika seorang anak balita minum susu! Berapa kali kita dengar seorang ibu dari anak yang masih balita berkata : “Minum susumu dengan benar! Jangan tumpah-tumpah dan jangan dibuat main-main!”

_____________________

Di kesempatan testing yang lain, pertanyaan si ibu begini :

“Berapa jarak yang bisa ditempuh seorang pejalan kaki dalam waktu 2 jam? Jika dia bisa berjalan sepanjang 1 km dalam 1 jam?”

 

Jawab si anak :

“Tergantung, capek atau nggak orang itu setelah jalan 1 km. Kalau capek dan haus mungkin 2 jam itu dia cuma 1 km saja, karena dia berhenti untuk istirahat dan minum. Atau dia cuma 1.5 km saja karena jalannya tambah pelan.”

 

Si ibu cuma bisa manggut-manggut sambil membenarkan dalam hati, dan mengakui kecerdasan buah hatinya.

 

 

Dari kedua contoh di atas, kita bisa belajar, bahwa untuk membuat soal test kita perlu kritis memandang konteks maslaah yang kita ajukan. Jangan sampai menimbulkan bias seperti soal di atas, atau malah memenjarakan cara pandang anak terhadap suatu masalah.

 

Memenjarakan anak? Apa maksudnya?

Bagaimana kalau si ibu memaksakan bahwa jawaban dari soal nomer 1 adalah 400 ml? Kalau anak tidak menjawab 400 ml maka akan mutlak salah, bukankah ini suatu bentuk penjara pikiran karena tidak diijinkan berpikir kritis dan sesuai dengan kondisi yang terjadi secara nyata?

Bagaimana kalau si ibu memaksakan bahwa jawaban nomer 2 adalah 2 km? Kenapa tidak mencoba melakukannya? Cobalah untuk berjalan sepanjang 1 km dalam waktu 1 jam, lalu tambah lagi menjadi 2 km dalam 2 jam, dan buktikan apa yang terjadi!

Soal-soal seperti ini sering kita temukan di buku-buku soal dan berbagai test. Guru, orang tua, kepala sekolah, pembuat soal, marilah kita bebaskan pola pikir anak dan kita ijinkan mereka memiliki pemikiran yang realistis dengan membuat soal-soal yang realistis pula.

 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 72 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :