Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Membantu Anak Mengembangkan Sikap Bertanggung Jawab PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Sunday, 04 September 2011 10:24

Orang tua memiliki kewajiban mendidik anak menjadi manusia yang bisa bertanggung jawab. Karena melalui kebiasaan bertanggung jawab anak bisa menjadi pribadi dewasa yang mampu berpikir dan bertindak dengan menghormati diri mereka sendiri dan orang lain.

Pendidikan tentang tanggung jawab harus diberikan secara konkret, melalui kejadian yang nyata dialami anak. Begitu juga sebaliknya, mengajarkan anak untuk tidak bertanggung jawab juga dilakukan dalam suasana yang konkret.

Orang tua yang sering menolak bertanggung jawab terhadap akibat dari suatu kejadian, akan dengan mudah ditiru anak. Anak yang mengetahui perilaku orang tua tersebut akan menirunya dalam kejadian lain yang melibatkan dirinya. Sebagai contoh, ada orang tua yang mengajak temannya bepergian ke suatu restoran untuk makan siang bersama, dengan mengatakan bahwa dia akan membayar makanannya. Sesudah makan ternyata orang ini menyodorkan tagihan ke temannya itu, sambil menagih pembayaran. Nah, anaknya yang melihat perilaku orang tuanya ini akan dengan mudah menirunya. Di lain waktu, si anak melakukannya terhadap saudaranya.

Bertanggung jawab sebenarnya juga melibatkan proses memahami perasaan orang lain. Bertanggung jawab harus diajarkan sejak dini, karena jika tidak maka akan menjadi bibit kejahatan ketika anak berusia dewasa. Banyak tindak kejahatan terjadi karena si pelaku tidak bisa bertanggung jawab. Sebut saja korupsi, si pelaku tak bisa memikirkan perasaan orang lain ketika dia melakukan korupsi, dia tak bisa bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Atau kasus ayah yang meninggalkan keluarganya untuk menikah lagi dengan gadis yang muda-belia, ini terjadi karena si ayah tidak bisa bertanggung jawab, tidak bisa menghormati perasaan orang lain.

Dengan berbagai contoh kasus ini, akankah kita sebagai orang tua tetap menjalani kehidupan yang tidak bertanggung jawab? Karena apa yang kita lakukan ditiru oleh anak.

Satu hal lagi, bahwa anak seringkali tidak bisa membedakan ketika orang tuanya sedang bergurau atau tidak. Ini dialami anak teman saya. Orang tuanya sering bergurau pura-pura tidak mau bertanggung jawab, padahal secara diam-diam dia bertanggung jawab. Suatu kali anaknya meniru, tidak mau bertanggung jawab dengan gaya bergurau, namun yang dilakukan si anak benar-benar adalah perilaku yang tidak bertanggung jawab, bukan sekedar gurauan seperti yang dilakukan orang tua. Nah, mari mempertimbangkan segala gurauan kita.


Apa Bertanggung Jawab Itu?

Tanggung jawab bukanlah sikap bawaan sejak lahir. Tanggung jawab dibentuk dari waktu ke waktu. Orang yang bertanggung jawab mampu berbuat baik walaupun tidak ada yang melihat, karena mereka memiliki pemahaman tentang kebenaran, memiliki keberanian dan pengendalian diri untuk berbuat baik, bahkan ketika ada godaan untuk berbuat tidak baik. Belajar untuk bertanggung jawab termasuk juga belajar untuk :

  • Menghormati dan menunjukkan kasih sayang bagi orang lain.

  • Mempraktikkan kejujuran sebagai suatu kebiasaan setiap waktu.

  • Menunjukkan keberanian dalam memegang teguh prinsip-prinsip kebaikan.

  • Mengembangkan kontrol diri dalam bertindak untuk menyatakan prinsip-prinsip hidup yang baik.

  • Penguasaan Diri


Mengasihi dan Menghormati Orang Lain Sebagai Wujud Tanggung Jawab

Sebagai bagian dari bertanggung jawab, anak harus menunjukan kepedulian dan kasih sayang pada orang lain. Tidak peduli siapapun orang itu, apa rasnya, apa warna kulitnya, bentuk matanya, bagaimana ekonominya, maupun agamanya. Anak harus mengasihi orang lain untuk bekal supaya dia bertanggung jawab. Banyak kasus orang dewasa yang tak mampu bertanggung jawab, korupsi di tempat kerja dengan alasan : “Tidak masalah, yang saya korupsi orang kaya kok, dia tidak akan merasa kehilangan.” Anggapan ini salah, dan ini bukan perilaku yang bertanggung jawab. Akhirnya dengan modal pemikiran seperti ini orang tersebut melakukan kejahatan korupsi.

Juga, tanpa tanggung jawab, anak bisa dengan mudah meninggalkan rumah yang berantakan oleh mainannya dengan alasan : “Tidak apa-apa, ibuku kan kaya, bisa menggaji pembantu untuk membereskan mainanku.” Ini juga bukan tanggung jawab. Tanggung jawab adalah memikirkan dan menghormati perasaan ibu atau pembantu yang lelah, dan karenanya akan membereskan mainannya sendiri.

Mengasihi dan menghormati orang lain juga bisa dilatih melalui rasa duka yang dialami oleh keluarga dekat. Misalnya ketika nenek sedang bersedih karena temannya meninggal, maka kita bisa mengingatkan anak bagaimana perasaannya ketika peliharaan kesayangannya meninggal, ada rasa kehilangan yang menimbulkan kesedihan. Lalu setelah anak bisa memahami perasaan neneknya, kita bisa mulai mengajarkan tentang cara menghibur nenek.


Kejujuran

Kejujuran berarti mengatakan yang sebenarnya. Ini berarti tidak menyesatkan orang lain untuk keuntungan kita sendiri. Ini juga berarti berusaha untuk membuat keputusan, terutama yang penting, berdasarkan bukti dan bukan prasangka. Kejujuran mencakup berurusan dengan orang lain dan bersikap jujur dengan diri kita sendiri. Untuk memahami pentingnya jujur kepada orang lain, anak-anak kita perlu belajar hidup bersama yang tergantung pada kepercayaan. Tanpa kejujuran, tidak mungkin ada kepercayaan satu sama lain. Jujur dengan diri kita melibatkan pengakuan pada kesalahan kita sendiri, bahkan ketika kita harus mengakuinya kepada orang lain. Ini termasuk kritik terhadap diri sendiri. Intinya adalah untuk belajar dari kesalahan kita dan melakukan yang terbaik untuk memperbaikinya.


Keberanian

Keberanian adalah mengambil posisi dan melakukan apa yang benar, bahkan dengan risiko kehilangan sesuatu. Ini berarti tidak ceroboh atau pengecut. Ini termasuk keberanian fisik, keberanian intelektual untuk membuat keputusan berdasarkan bukti, dan keberanian moral untuk membela prinsip-prinsip. Keberanian bukan berarti tidak pernah takut. Keberanian juga termasuk berani mencoba mengatasi ketakutan, seperti takut gelap. Tapi anak-anak juga perlu belajar bahwa mereka memiliki hak untuk merasa takut. Keberanian moral ini sangat penting terutama pada saat anak menjadi remaja. Mereka harus berdiri melawan tekanan teman sebaya untuk melakukan hal yang salah, seperti menggunakan obat-obatan narkoba.


Kontrol Diri

Kontrol diri adalah kemampuan untuk menolak perilaku yang tidak pantas dan untuk bertindak secara bertanggung jawab. Hal ini terkait dengan semua aspek dari tanggung jawab yang disebutkan di atas, termasuk penghargaan dan kasih sayang bagi orang lain, kejujuran, dan keberanian. Kontrol diri melibatkan ketekunan dan memelihara komitmen untuk jangka panjang. Kontrol diri juga berkaitan dengan emosi, seperti kemarahan, dan mengembangkan kesabaran.


Rasa Menghargai Diri Sendiri

Orang yang memiliki harga diri memilik kepuasan dalam perilaku yang tepat. Mereka tidak perlu menjatuhkan orang lain atau memiliki banyak uang untuk menghargai diri mereka sendiri. Orang yang menghargai diri sendiri juga melihat keegoisan, kehilangan kontrol diri, kecerobohan, pengecut, dan ketidakjujuran sebagai salah dan tidak layak bagi mereka. Ketika mereka dewasa, dan telah belajar bertanggung jawab, mereka akan mengembangkan hati nurani yang baik untuk membimbing mereka. Selain itu, orang yang menghormati diri mereka menghormati kesehatan dan keselamatan mereka sendiri pula.

Mereka juga tidak mau dimanipulasi oleh orang lain. Kesabaran atau toleransi tidak berarti membiarkan orang lain memperlakukan kita semena-mena. Sementara kita membantu anak-anak memiliki standar tinggi untuk diri mereka sendiri, kita juga perlu membiarkan mereka tahu bahwa kegagalan tidak akan mengakibatkan rasa malu ketika kita telah melakukan yang terbaik. Misalnya, kehilangan kemenangan ketika mereka telah melakukan yang terbaik, karena lawan memang memiliki kondisi yang lebih baik, perlu dijelaskan pada anak bahwa ini bukanlah suatu aib.


Menumbuhkan tanggung jawab pada anak memang bukan proses yang cepat dan instant. Bimbingan dan contoh nyata dari orang tua tetap diperlukan secara konsisten. Kekonsistenan adalah syarat mutlak yang tak bisa ditinggalkan. Namun ketika sikap tanggung jawab telah terbentuk dalam diri anak, akan tampak pula pribadi dewasa yang menyenangkan. Pendidikan homeschooling yang menggabungkan aspek akademis dan personality dalam keluarga sangat memungkinkan pembentukan sikap bertanggung jawab ini. Namun itu bukan berarti sikap ini akan terbentuk secara otomatis dalam keluarga home education, keluarga, orang tua dan anak tetap harus mengusahakan pembelajaran karakter ini secara bersama-sama, jujur, dan konsisten.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:38
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 41 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :