Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Bagaimana Melatih Disiplin Dari Dalam Diri (Self Discipline) Anak? PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Saturday, 14 May 2011 13:08

 

Beberapa waktu lalu ada seorang ibu yang menanyakan tentang pembentukan self discipline pada anak, berikut ini saya mencoba menjawabnya.

Kalau mendengar kata disiplin, yang pertama terlintas di pikiran kita adalah “keharusan melakukan  hal-hal yang tidak menyenangkan”. Dan harus. Harus bangun pagi, harus olahraga padahal sedang ingin bermalas-malasan, harus diet padahal sedang ingin makan enak, harus berdoa sebelum tidur padahal mata sudah sangat mengantuk, dsb.

Asosiasi antara kata “disiplin” dengan keengganan-keengganan tersebut menghasilkan perasaan negatif. Rasa ingin menolak keharusan-keharusan itu.

Sekarang, mari kita ingat-ingat lagi, ketika kita melakukan kedisiplinan, contohnya, bangun pagi ketika badan masih lelah dan ingin terus tidur, tapi harus bangun karena harus bergegas untuk bekerja. Apa yang anda rasakan ketika berhasil membawa badan untuk bangun pagi? Tentunya rasa lega dan sukses. Hasilnya pun nyata, bahwa anda tidak terlambat bekerja.

Dengan hasil akhir yang menyenangkan ini, disiplin yang penuh pengorbanan itu seharusnya dikaitkan dengan kelegaan dan keberhasilan, bukan keharusan yang mengikat dan merugikan.

Itu yang ada dipikiran kita sebagai manusia dewasa yang telah menjalani berbagai kejadian dan telah merasakan akibat dari self discipline itu. Bagaimana dengan pemikiran anak-anak? Mereka masih muda, tentu belum bisa mengasosiasikan self discipline dengan kebebasan.

Anak-anak juga masih memiliki kecenderungan impulsif, yaitu cenderung melakukan tindakan yang menyenangkan secara instan. Kedua faktor ini sangat mempengaruhi anak untuk memilih kegiatan yang menyenangkan dahulu daripada yang tidak menyenangkan walaupun hasil dari kegiatan yang tidak menyenangkan itu sangatlah positif baginya.

Misalnya anak memilih menunda mandi pagi demi bermalas-malasan di kasur, padahal kalau memilih mandi dia akan mendapatkan keuntungan : kulitnya menjadi sehat, bermain pun jadi lebih nyaman karena badannya telah bersih, kalau ibu tiba-tiba harus pergi dia juga bisa ikut ibu karena telah mandi.

Walaupun telah memahami kondisi anak ini, namun banyak orang tua masih mengeluhkan ketidakmampuan anaknya dalam berdisiplin. “Nunggu dimarahi baru bergerak,” begitu biasanya komentar orang tua.

Memang, self discipline harus dilatih, diajarkan, karena tidak terbentuk dengan sendirinya. Self discipline tidak instinktif. Tugas orang tua adalah melatih anak mengembangkan self discipline-nya.

Self discipline berkaitan erat dengan kontrol diri. Ketika anak bisa mengontrol dirinya untuk bergerak dan tidak menjadi impulsif, maka anak bisa mengarahkan dirinya menuju tindakan disiplin, yaitu tindakan yang di awal tampaknya penuh pengorbanan, namun memiliki ending yang penuh keuntungan.

Berikut ini beberapa contoh latihan yang bisa dilakukan untuk melatih self discipline anak :

1. Ajarkan anak untuk datang ketika dipanggil. Ketika mereka sedang asyik bermain, biasanya mereka enggan datang untuk memenuhi panggilan orang tua. Dengan datang ketika dipanggil, mereka akan melakukan kontrol diri, meninggalkan kesenangannya dulu untuk memenuhi panggilan orang tua.

2. Ajarkan anak untuk merespon kritik secara positif. Kebanyakan anak tidak suka dikritik dan merespon kritik secara negatif, seperti marah, ngambek, dsb. Mengajarkan anak untuk merespon kritik dengan sikap yang baik akan mempermudah mereka dalam mengontrol diri kelak ketika dewasa dalam menghadapi peraturan-peraturan yang tidak mereka sukai dan ketika menghadapi kritik dalam pekerjaannya kelak.

3. Beberapa keahlian sosial seperti mendengarkan perkataan, mengetahui kapan diijinkan untuk menginterupsi, pengendalian amarah, semua itu membutuhkan kontrol diri dan self discipline, dan bagi anak hal tersebut dilakukan dengan berat, perlu keahlian tinggi. Jadi tak ada salahnya memberikan pujian ketika anak berhasil melakukannya.

4. Dorong anak untuk melakukan aktivitas yang membutuhkan self discipline. Seperti mengikutkan pada klub olahraga yang memiliki jadwal, melibatkan anak dalam membersihkan rumah, dsb.

5. Ketika anak mendapatkan bintang karena prestasinya, atau uang dari hasil kerjanya, ini adalah saat yang tepat untuk berdialog dengan anak tentang self discipline. “Kamu bisa menang karena kamu bangun pagi, coba kalau kamu tidak bangun pagi... mana mungkin bisa dapat piala? Ternyata bangun pagi menyenangkan ya...

6. Rutinitas pagi hari akan menjadi kesempatan bagi anak untuk belajar tentang tanggung jawab dan self discipline. Tanggung jawab adalah : melakukan tindakan dengan benar walaupun tidak diawasi.

7. Beri penjelasan pada anak mengapa dia harus berdisiplin, apa akibatnya kalau dia tidak berdisiplin, dan apa keuntungan dari disiplinnya. Beri waktu bagi anak untuk memilih tindakan, dan beri waktu bagi anak untuk membuktikan akibat dari tindakannya itu. Setelah pembuktian, berdiskusilah dengan anak tentang pilihannya dan tentang akibat dari pilihannya. Kaitkan diskusi tersebut dengan self discipline, dan ketika di kemudian hari menghadapi hal yang sama lagi, ingatkan anak tentang pilihannya di masa lalu dan akibat dari pilihannya itu. Pastikan anak paham tentang akibat dari pilihannya. Proses ini akan membuat anak menerapkan self discipline dan bertanggung jawab pada perilakunya.

Banyak orang tua yang memilih untuk membiarkan anak begitu saja tanpa kemampuan self discipline dan tanggung jawab. Mereka memilih untuk marah-marah jika anak tidak berdisiplin, namun tidak pernah memberi pemahaman pada anak. Percuma saja, karena yang ditangkap dalam pikiran anak hanyalah amarah orang tua.

Self discipline harus dikembangkan dan diajarkan karena telah terbukti bahwa anak-anak dengan self discipline lebih bahagia daripada anak-anak yang tidak mengenal self discipline, anak-anak yang dibiarkan melakukan tindakan apapun sesuka mereka.

 

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 18:41
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Yang sedang online

We have 47 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :