Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Kelelahan Ibu dan Proses Belajar Anak PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Sunday, 19 September 2010 16:10

Seorang ibu muda mengirim email pada saya dan meminta advice untuk suatu hal yang menurutnya (dan menurut saya juga) adalah permasalahan yang sangat penting, begini bunyi emailnya:


Halo Maria,
Aku masih berjuang menghadapi diriku sendiri. Tiap pagi sampai siang aku selalu disibukkan oleh kesibukan rumah. Selama itu anakku dipegang oleh neneknya. Lalu, setelah selesai dengan pekerjaan rumah, maunya aku megang anakku, ngajak dia main-main. Tapi mungkin karena kelelahan aku malah sering marah-marah padanya. Lihat dia nakal sedikit saja sudah membuat aku merasa naik darah. Susah sekali mau menerapkan teori parenting yang sering Maria sarankan padaku, antara lain bersabar dan sering mengajak anak bermain. Aku tahu bahwa anakku tidak bermaksud nakal, kan dia masih belum umur 1 tahun, dia belum tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tapi, benar-benar sulit menerapkan sabar itu. Kalau terhadap keponakanku kok gampang ya untuk bersabar, mendampinginya belajar. Tapi kok sama anak sendiri susah ya? Tolong sarannya Maria.


(Sebagai catatan, putra dari ibu muda ini masih berusia 11 bulan)

Inilah permasalahan yang memang sering timbul di masa awal menjadi seorang ibu. Permasalahan ini bisa dimaklumi tapi tidak bisa dibiarkan begitu saja. Karena jika dibiarkan, kan banyak permasalahan yang timbul dikemudian hari, seperti misalnya perkembangan kepribadian anak yang terganggu, hubungan orang tua-anak merenggang, dan imitasi pola emosi orang tua oleh anak. Tentu kita tidak menginginkan ini terjadi bukan? Apalagi jika ini dialami oleh keluarga home education, tentu saja ada efek negatif yang lain yaitu terhambatnya proses belajar anak dan terasosiasinya suasana emosi negatif pada proses belajar, yang berakibat anak malas belajar bersama orang tua. Keasyikan belajar itu bisa menghilang.

Lalu bagaimana pemecahannya?
Banyak orang menyarankan agar bersabar, tahan emosi, "not take it personally", dsb. Tentu saja cara itu tidak salah, dan dalam banyak kasus bisa membantu mengatasi suasana yang merugikan secara emosional. Tapi yang terutama dan menjadi dasar pemikiran dari semua itu adalah bahwa anak adalah pusat segalanya. Prioritas utama adalah pada anak, cinta kasih tak bersyarat pada anak, hasrat untuk mewujudkan generasi penuh kasih sayang dan kematangan emosional, sebuah generasi yang akan merawat sesamanya dengan baik ketika dewasa nanti. Dan semua itu hanya akan terwujud nyata jika kita memperlakukan anak dengan penuh cinta kasih pula, penuh kerinduan untuk bersama mereka dalam suasana menyenangkan dan penuh pengembangan diri, bukan suasana penuh amarah, kesedihan, dan protes.

Setelah sibuk mengerjakan rumah, saya sangat merindukan waktu berkumpul dengan anak, sehingga segala kepenatan itu tak membuat saya berusaha menghindarinya, tapi justru dengan mendekatinya kelelahan itu terhibur, dan menyingkir. Inilah yang menjadi motivasi saya untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaan rumah ketika anak saya masih tidur, atau bahkan kadang-kadang bermalas-malasan tidak mengerjakaan pekerjaan rumah jika anak saya telah bangun terlebih dahulu.

Anak seharusnya menjadi motivasi kita untuk mencintai, dan ketika pekerjaan rumah selesai dilakukan, itulah saatnya kita melepaskan kerinduan pada anak dan bersenang-senang bersama anak, bukannya malah menjadikan anak sebagai pusat penyaluran kelelahan kita, dan menjadi alasan bagi kita untuk marah-marah karena kelelahan.

Hanya perubahan mind set (setting pikiran) inilah yang kita butuhkan supaya suasana emosi negatif itu tidak perlu ada, sehingga ketika semua pekerjaan rumah di pagi hari itu selesai, yang kita lakukan adalah melepaskan kerinduan pada anak, termasuk kerinduan untuk bermain, mengeksplorasi dunia dan belajar bersama mereka. Dengan kerinduan yang amat sangat itu kita bisa memulai suatu proses belajar bersama yang asyik dan penuh kasih sayang.

Sekali lagi, anak bukanlah pelampiasan kelelahan dan amarah.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 19:04
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 40 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:


The Root of Learning

Award :