Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Mitos-mitos Dari Orang Yang Sangat Awam Tentang Home Education PDF Print E-mail
Written by Webmaster   
Monday, 24 May 2010 07:52

"Kamu yakin anakmu bisa home education? Home education berat lo... belajarnya tiap waktu, malahan kata temanku di status facebooknya, belajarnya selama anak tidak tidur! Kapan mainnya? Kapan gaulnya? Belajar melulu di depan komputer, di meja belajar, terkurung di dalam rumah. Anakmu bakal jadi kutu buku. Iiihh... aku pikir orang tua yang menerapkan home education itu orang tua yang terlalu ambisius mencerdaskan anak. Kan yang penting anak punya kecerdasan emosional, EQ, daripada IQ. Dan EQ kan bisa didapat dari pergaulan di sekolah, dengan tetangga juga. Ngeri ya dengan trend sekarang ini."

Pembahasannya :

Dengan membaca pernyataan diatas, saya yakin praktisi home education pasti tahu latar belakang orang yang menyatakannya, ya betul, orang ini tidak mengetahui apapun tentang home education. Kalau boleh dikata, dia sudah bermulut besar, tidak tahu apa-apa tapi berani menyatakan bahkan memberi saran.

Dalam pernyataan ini ada beberapa poin yang perlu diluruskan, yang pertama adalah arti dari "belajar tiap waktu, belajar sepanjang anak tidak tidur", berikutnya adalah "Belajar melulu di depan komputer, di meja belajar, terkurung di dalam rumah", lalu "orang tua yang menerapkan home education itu orang tua yang terlalu ambisius mencerdaskan anak", lalu "EQ kan bisa didapat dari pergaulan di sekolah, dengan tetangga juga", terakhir "Ngeri ya dengan trend sekarang ini".

"belajar tiap waktu, belajar sepanjang anak tidak tidur"
"Belajar" bagi keluarga home education sangat berbeda dengan anggapan orang pada umumnya. Pada umumnya, orang memandang belajar sebatas membuka buku, mengerjakan worksheet, memainkan education games, bahkan mengerjakan PR. Tapi tidak demikian dengan keluarga home education. Setiap aktivitas anak bisa dianggap sebagai belajar. Ketika anak bermain dengan temannya, itu adalah belajar. Ketika anak mencorat-coret kertas, itu adalah belajar. Ketika anak mendengarkan musik atau menonton film, itu adalah belajar. Bahkan ketika anak makan dan mandi pun ada belajar di sana. Keluarga home education tidak memandang belajar secara sempit.

"Belajar melulu di depan komputer, di meja belajar, terkurung di dalam rumah"
Ini juga anggapan yang sangat salah. Keluarga home education pada umumnya senang menjelajahi dan mengeksplorasi segala hal yang ada di sekitarnya, termasuk yang ada di luar rumah. Pandangan tentang belajar yang meluas dan tanpa batas menjadikan rumah, meja belajar dan komputer sebagai "markas" bagi kegiatan belajar mereka, tapi bukan yang utama. Bagaimana dengan orang pada umumnya? Wah, pasti sebagian besar beranggapan kalau anak suka keluyuran itu tidak bisa belajar, dan kalau anak sudah asyik di depan komputer baru tampak sedang belajar. Hmmm... tepatkah tuduhan di atas dialamatkan pada keluarga home education? Sama sekali tidak tepat.

"Orang tua yang menerapkan home education itu orang tua yang terlalu ambisius mencerdaskan anak"
Orang tua home education sadar sepenuhnya bahwa melalui jalur home education anak-anak tidak akan bisa berkompetisi dalam bidang akademik. Selain itu mereka juga sadar bahwa home education adalah pilihan yang tepat untuk anak-anak bisa belajar secara lebih menyenangkan. Kedua pemikiran ini jika digabung akan membuat suatu pernyataan bahwa orang tua home education memang ingin anaknya jadi cerdas tapi dengan cara belajar yang menyenangkan sesuai dengan cara anak. Apakah terlalu ambisius? Tentu tidak, orang yang ambisius cenderung memaksakan caranya pada orang lain. Dalam prakteknya, tentu orang tua home education tidak memaksakan cara belajar apapun pada anak. Anak yang menentukan cara belajar bagi dirinya sendiri.

"EQ kan bisa didapat dari pergaulan di sekolah, dengan tetangga juga"
Benarkah demikian yang terjadi? Sekolah sejak usia dini, bergaul dengan teman tanpa bimbingan, guru hanya mengawasi dan memarahi jika siswa berkelahi, jika tidak, dibiarkan saja, walaupun ada transaksi keburukan sedang terjadi. Asalkan tidak berkelahi saja tidak akan salah, itulah kesalahannya! Sejak dini orang tua home education menyadari perlunya sosialisasi yang baik, dan mereka juga menyadari bahwa di segala usia anak sangat membutuhkan bimbingan dalam bersosialisasi agar yang di dapat adalah kebaikan dan pembentukan karakter yang baik melalui sosialisasi. Sosialisasi di sekolah sangat jarang membentuk pribadi yang matang dan positif. Konsumerisme, hedonisme, persaingan tidak sehat, narkoba, free sex, semua itu sangat mungkin terjadi dalam sosialisasi di sekolah. Orang tua home education memberikan pendampingan yang proporsional bagi sosialisasi anaknya, memberikan arahan bagaimana anak bisa bersosialisasi dengan baik tidak hanya ketika anak berkelahi dengan temannya. Dengan kasih sayang yang penuh, kepedulian, dan perhatiannya, orang tua home education yang mengenal anak dengan sangat baik akan memberikan yang terbaik pula bagi pengembangan kedewasaan karakter anaknya, inilah yang diukur dalam EQ.

"Ngeri ya dengan trend sekarang ini"
Home education atau homeschooling memang sedang trend, tapi trend ini membawa kebaikan bagi keluarga, terutama anak. Home education dianggap membawa angin segar bagi pendidikan anak secara keseluruhan, mulai pendidikan akademis hingga karakter. Oleh karena itu, sekarang banyak orang yang berlomba-lomba memampukan diri memberi anak pendidikan yang baik melalui home education. Tidak seperti trend lain yang hanya berlangsung sesaat, home education justru akan menjadi trend selamanya ketika sekolah tak lagi mampu memberikan pendidikan secara holistik, dan ketika semakin banyak orang tua yang peduli. Apalagi biaya sekolah yang bagus semakin melangit, banyak orang tak dapat menjangkaunya. Trend ini sangat baik untuk diikuti.

Last Updated on Tuesday, 18 October 2011 19:15
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 74 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:


The Root of Learning

Award :