Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
KulWap Charlotte Mason Bersama Ellen Kristi PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Friday, 29 May 2015 13:03

Maria Magdalena:

Teman-teman... Selamat malam....

Sudah siap dengan KulWap malam ini?

Nah disini pasti sudah ada beberapa orang yang baca buku Cinta Yang Berpikir.

Malam ini kita akan berbincang dengan penulisnya, mbak Ellen Kristi, tentang praktik keseharian edukasi keluarga dengan metode Charlotte Mason.

Buat saya pribadi, metode ini juga agak-agak sulit untuk diterapkan. Oleh karena itu saya sangat tertarik ngikuti kulwap malam ini.

ok saya perkenalkan dulu tentang mbak Ellen Kristi

Ellen Kristi adalah seorang ibu dari 3 anak, yang menjalankan homeschooling dengan metode Charlotte Mason. Ellen Kristi juga mengelola website www.cmindonesia.com untuk memperkenalkan filosofi pendidikan Charlotte Mason dalam bahasa Indonesia. Selain mengelola website, Ellen Kristi juga mengelola komunitas Charlotte Mason melalui grup Facebook: Komunitas Charlotte Mason Indonesia. Tahun 2012, Ellen Kristi menerbitkan sebuah buku: Cinta Yang Berpikir, yang memuat prinsip-prinsip Charlotte Mason dan panduan penerapannya dalam keseharian edukasi keluarga.

Bagaimana sebenarnya penerapan prinsip-prinsip Charlotte Mason ini dalam keseharian pendidikan anak? Mari kita ikuti KulWap malam ini bersama ibu Ellen Kristi.

Ok kita mulai ya... saya harap tidak ada yang menulis apapun di forum ini. Untuk bertanya silakan menulis ke saya (jalur pribadi), nanti saya akan copy-paste ke group ini untuk dijawab oleh mbak Ellen.

Silakan mbak

 

 

Ellen Kristi:

Terima kasih, mbak Maria.

"agak sulit diterapkan" ya ...

Baiklah saya mulai saja. Selamat malam semuanya.

Kehormatan bagi saya diundang untuk berbagi sedikit pengetahuan saya tentang metode Charlotte Mason (CM).

Kenalkan dulu nama saya Ellen Kristi, ibu dari tiga anak. Yang sulung 9 tahun, saat ini ada di tahun kedua (Year 2) pendidikan terstrukturnya. Yang tengah 6 tahun, baru akan menjalani pendidikan terstrukturnya secara penuh tahun depan, tapi akan mulai ‘pemanasan’ tahun ini. Yang bungsu baru hampir 3 bulan.

Apakah sudah ada yang membaca buku saya, Cinta yang Berpikir? Jika sudah, maka tentu prinsip-prinsip pendidikan CM telah teman-teman ketahui. Intinya, pendidikan CM berorientasi pada pemuliaan karakter.

Visinya, selain bermoral tinggi, anak juga terasah intelektualitasnya, punya minat luas, berpikiran besar, berbudaya, religius, punya jiwa melayani, tapi di sisi lain juga terampil bekerja dan profesional. High thinking, lowly living.

Kalau visinya sudah jelas, tinggal sekarang bagaimana mencapai visi itu.

Ada tiga instrumen, kata CM, yang bisa dimanfaatkan orangtua. Pertama, atmosfir. Kedua, disiplin. Ketiga, ide hidup.

Atmosfir maksudnya orangtua harus menjadi teladan yang inspiratif dalam kehidupan sehari-hari. Rumah adalah basis pembentukan karakter.

Ingin anak suka belajar? Berarti orangtuanya harus juga suka belajar. Ingin anak rajin bekerja? Kita pun juga mesti begitu.

Itu sebabnya proses home education tidak berarti hanya anak yang dididik. Ayah-ibulah yang mesti lebih dulu mawas diri dan memperbaiki diri. Raising children, raising ourselves, kata Naomi Aldort.

Kita dan anak jadi kawan seperjalanan, sama-sama terus berusaha “naik kelas” dalam segala hal yang positif.

Disiplin maksudnya kita secara sistematis, terencana, dan bertujuan melatihkan kebiasaan-kebiasaan baik pada anak. Istilahnya, habit training.

Ini penting karena apa yang dikerjakan berulang-ulang akan terpatri dalam syaraf-syaraf otak, makin sering dikerjakan, makin mudah rasanya.

CM merekomendasikan orangtua memilih satu kebiasaan baik tertentu untuk dilatih selama satu bulan secara konsisten sampai akhirnya anak terbiasa. Bulan depannya, latihkan kebiasaan baik yang lain. Dan seterusnya. Maka ketika akhirnya anak itu meninggalkan rumah untuk hidup mandiri, dia sudah dilengkapi dengan puluhan kebiasaan baik.

Ide hidup maksudnya kita menyajikan bagi anak segala materi belajar, khususnya buku-buku, yang membuat benaknya tergugah untuk berpikir, merenung, berkreasi, dsb.

Tidak semua buku nilainya sama. Ada buku bermutu yang mengandung ide inspiratif, CM istilahkan “living books”. Ada buku yang picisan, dangkal, atau garing, istilahnya “twaddle”.

Living books ibarat makanan bergizi bagi pikiran, membuatnya sehat dan kuat. Twaddle ibarat junk food, membuat sakit dan lemah.

Supaya badan sehat, manusia harus makan makanan yang bergizi, bervariasi, dalam jumlah yang cukup. Begitu juga agar pikirannya berkembang optimal, anak mesti mendapat pasokan ide dari buku-buku bermutu, beragam, dalam jumlah yang cukup.

Maka, kurikulum harus disusun sekaya mungkin, a generous curriculum. Menurut CM, usia kanak-kanak bukan waktunya untuk memilih bidang spesialisasi.

Anak mesti diperkenalkan pada khazanah ide yang luas, mulai dari sejarah, sastra, sains, matematika, agama, bahasa asing, sampai hasta karya.

Cara terbaik agar anak aktif mencerna isi materi pelajarannya adalah narasi dengan prinsip sekali baca. Setelah satu kali membaca/mendengar, anak diminta menceritakan kembali apa yang berhasil ia tangkap dari bukunya dalam bahasanya sendiri.

Jadi praktek akademis pendidikan CM pada dasarnya sangat sederhana. Bacakan bagi anak buku bermutu lalu minta dia membuat narasi. Jika perlu, kita bisa memberi sedikit tambahan, tapi jangan jadi mendominasi ya.

Biasanya yang paling menantang bagi orangtua adalah meminta anak membuat narasi ini.

Kita mesti menjelaskan dulu kepadanya mengapa narasi itu penting  -- narasi itu membuat dia belajar fokus, bisa mengungkapkan pendapat, dsb. Lalu kita yakinkan bahwa apa pun yang ia narasikan akan dihargai, tidak ada benar-salah.

Kalau anak sudah bersedia, minta dia narasi teks yang paling mudah dulu, dengan porsi yang pendek dulu, sebagai latihan.

Kalau kelihatan sudah tidak kesulitan, baru tambah porsi bacaannya jadi lebih panjang.

Dulu anak pertama saya pertama kali narasi dari bacaan beberapa kalimat saja. Sekarang dia sudah bisa menarasikan berhalaman-halaman bacaan.

Manfaatnya terlihat sekali. Dia terbiasa fokus menyimak dan cepat menangkap inti dari yang disampaikan, serta mampu mengungkapkan secara verbal yang berhasil dia tangkap itu.

Prinsip lainnya yang penting adalah short lessons.

Ada banyak subjek yang anak pelajari setiap hari, mulai dari belajar membaca, menulis, bahasa asing, kitab suci, puisi, sejarah, sastra, dsb. Pelajaran yang banyak itu tercakup semuanya dalam waktu yang tidak lama.

Year 2 ini, sehari anak saya menghabiskan sekitar 2 jam untuk seluruh pelajarannya. Sisa waktu bisa dia pakai untuk berbagai aktivitas lain, termasuk hobinya.

Sependek pengalaman saya, fase terstruktur ini akan lebih mudah dijalankan kalau pada usia prasekolah, orangtua juga telah melaksanakan rekomendasi CM tentang habit training.

Misalnya tentang living books. Standar buku yang bagus menurut CM boleh dibilang tinggi. Tapi kalau anak sejak kecil sudah terekspos pada living books, kosakatanya menjadi kaya, sehingga tidak sulit baginya memberikan narasi setelah masuk fase terstruktur.

Yang tidak kalah penting adalah memahami filosofi serta prinsip-prinsip praktis yang digariskan CM.

Perspektif tentang kodrat anak, rasa percaya bahwa anak adalah pembelajar, kesadaran tentang hak dan kewajiban orangtua dalam proses pengasuhan, lalu pemahaman tentang peran kita saat memfasilitasi proses belajar anak, dlsb, akan menentukan tindakan kita di lapangan.

Itu dulu bahasannya. Nanti bisa diperkaya lewat tanya jawab.

Kembali ke moderator

Maria Magdalena:

ok, saya buka sesi tanya-jawab. Silakan japri saya

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-1:

Anne, 7,5 thn, lebih suka membaca bukunya dalam bahasa aslinya. Tapi terkadang yg menjadi kendala adalah ketika ada satu atau beberapa kata bahasa Inggris yang belum dia pahami artinya, dan kemudian itu merubah penangkapannya ttg bacaan yg dinarasikan. Bagaimana menyiasatinya ya mbak?

dari Ade

Silakan langsung dijawab mbak

Ellen Kristi:

CM merekomendasikan sebelum mulai membaca anak diajak mengamati dulu ada kata yang sulit tidak.

Atau kalau kita sudah bisa menduga kata tertentu tidak dia pahami, kita jelaskan dulu ke anak.

Jadi sifatnya sebisa mungkin preventif, spy tdk mengganggu dlm proses membacanya.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-2:

apakah bisa LvB dijadikan "gerbang" untuk lebih memahami ayat2 Kitab Suci, seperti pada kurikulum five in a row. Apakah prinsip ini sejalan dgn CM?

dari Ade

Ellen Kristi:

bisa saja. tapi saya tidak terlalu paham FIAR. CM lebih merekomendasikan anak baca Alkitabnya langsung.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-3:

jika anak tidak terlalu suka materi history misalnya atau science , apakah mnrt Mason tetap terus disuguhkan ke anak (ortu tetap berusaha menawarkan materi yg anak kurang minati? Atau distop, hanya yg anak tertarik) atau tetap cari metode lain sekreatif ortunya ?

dari Imelda

Ellen Kristi:

Ketertarikan bukan penentu, itu prinsipnya. pendidikan CM tidak bersifat child-led. Kurikulum yang kaya, anak mesti diperkenalkan dengan banyak ide.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-4:

Mbak Ellen menulis :

"Maka, kurikulum harus disusun sekaya mungkin, a generous curriculum. Menurut CM, usia kanak-kanak bukan waktunya untuk memilih bidang spesialisasi."

Pertanyaan:

Sampai usia berapakah dikategorikan "kanak-kanak" ?

dari Ahmad Irham Fauzi

Ellen Kristi:

Sampai usia SMA, anak perlu mendapat pengetahuan yg bersifat mendasar dr berbagai bidang. kalaupun ada bidang yg ingin dia tekuni, jgn sampai lalu tdk membaca buku2 sejarah, sastra, dsb.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-5:

habit apa saja yg mesti dilatih. bagaimana memulainya?

dari Yaya

Ellen Kristi:

Yang paling utama habit of obedience & habit of attention. tp msh banyak yang lain.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-6:

Mb Ellen terus terang sy lg berburu LvB, saya kesulitan nyari apalagi yg berbahasa Indonesia. Utk LvB bergambar utk anak2 seusia 6th rekomendasi mb Ellen apa saja?

Ellen Kristi:

saya juga kesulitan mencari LvB berbahasa Indonesia utk anak2. Lebih banyak pilihan utk usia SMP ke atas.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-7:

Utk anak pre school narasinya model bgmn mb ? Selama ini yg sdh sy lakukan, sy minta menceritakan scr lisan tp kadang jg ogah2an. Tips nya bgmn mb?

dari Yuli

Ellen Kristi:

Anak prasekolah tidak ada kewajiban narasi. Cukup sering2 dipancing untuk cerita saja.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-8:

Saya mengamati Joshua (2y7m) lbh mudah belajar secara visual. Kosakata sangat cepat bertambah melalui sticker books & gambar gerak. Bagaimana ini nantinya dihubungkan dlm prinsip/konsep living books CM? Apakah nanti semakin besar dia akan tumbuh ketertarikan pada membaca?

dari Judith

Ellen Kristi:

Untuk usia dini, CM merekomendasikan pengayaan bahasa dan batasi materi visual. padahal abstraksi/konseptualisasi penting agar anak mampu naik ke higher order thinking. terlalu banyak visual menghambat perkembangan kemampuan anak melakukan abstraksi.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-9:

Kalau anak menolak narasi, bagaimana menyiasatinya?

dari Octa

Ellen Kristi:

Cari tahu dulu menolaknya karena apa, baru kita respons.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-10:

rencana saya akan mulai HS dengan anak saya saat dia sudah berusia 2 tahun, walau tidak terstruktur. Kegiatan sehari2 saya bayangkan mungkin akan banyak membacakan cerita, aktivitas menggunakan pancaindera seperti membuat prakarya sederhana, kegiatan luar ruang dan juga playdates dengan bbrp anak yg juga HS. Bagaimana menurut anda?

Pertanyaan kedua bagaimana menyuguhkan materi2 secara singkat, saya perhatikan anak saya kalau main blocks atau mencoret2 bisa lama sekali sangking asiknya, apakah kita potong saja lalu kita ganti dg kegiatan lain ataukah kita tunggu sampai anaknya jenuh?

dari Lucy

Ellen Kristi:

di usia prasekolah, penting sekali habit training. Short lessons itu utk fase terstruktur, di atas usia 6 tahun. lalu membiasakan diri dengan bacaan bermutu. juha sering main di alam terbuka. Latihan motorik kasar & halus juga OK.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-11:

Wynne 13,5, sudah menjalani hs dgn metode cm selama hampir 3th, dimulai dengan y6 dan skrg y8. Dengan materi2 yg direkomendasikan cm dan metode narasi yg diterapkan membuat buku2 materi kurnas terasa sulit untuk dipelajari? Apa penyebabnya? Dan bgm menyiasatinya jika ingin mengambil ujian paket? Apakah mba ellen sendiri memberikan materi kurnas atau tidak? Jika tidak ujian apakah yg nti akan diambil?

dari Onlee

Ellen Kristi:

mbak On Lee langsung bahasa Inggris ya?

Maria Magdalena:

dari onlee: iya full

Ellen Kristi:

ada model berpikir yang berbeda antara CM yang bersifat pemahaman & kurnas yang drill. apalagi kl berbahasa Inggris vs. Indonesia. mesti ada waktu utk adaptasi dulu. saya sendiri tdk pakai kurnas sama sekali. tp kadang saya bacakan latihan soal SD dari majalah Bobo.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-12:

ortunya belajar ide darimana? jika ortu sibuk sekali tanpa pembantu bagaimana mbak? apalagi tidak tahu bahasa inggris. apakah yg lokal udah banyak? makasih

dari Dewi

Ellen Kristi:

Coba mbak Dewi baca buku CYB & website cmindonesia.org unduh juga ringkasan tulisan CM dari sana utk pahami dulu prinsipnya. Setelah itu, pakai saja buku mana pun yang terbaik yg bisa mbak temukan dari perpus atau toko.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-13:

Anak saya 2,5 tahun. Saya ingin kami berproses bersama dalam homeschooling. Apakah ada kurikulum tertentu untuk usia ini? Saat ini kami lebih banyak bermain karena saya berpikir belum waktunya anak saya untuk belajar membaca, berhitung dsb

dari Titin

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-14:

Selain membaca sebanyak-banyaknya LvB, apa lagi "pemanasan" bagi anak2 prasekolah sebelum bersiap memasuki proses belajar terstruktur?

dari Ade

Ellen Kristi:

usia prasekolah: habit training, buku bermutu, banyak kegiatan di alam, eksplorasi motorik kasar & halus, partisipasi dlm kehidupan sosial sehari2.

habit of obedience & habit of attention penting sekali sebagai fondasi.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-15:

melanjutkan pertanyaan Ahmad Irham Fauzi: Bagaimana dengan menekuni hobi, apakah sudah termasuk spesialisasi?

dari Yaya

Ellen Kristi:

menekuni hobi boleh, tapi jangan hanya itu. tetap jalani kurikulum yang kaya.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-16:

Pertanyaan ketiga mengenai kurikulum karena kebanyakan kurikulum CM based berbahasa inggris, bagaimana sebaiknya kami menambah wawasan lokalnya, seperti bahasa, budaya, sejarah Indonesia, dll.

dari Lucy

Ellen Kristi:

Cari buku terbaik yg tersedia dlm bhs indonesia. Sejarah bisa juga pakai metode lisan.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-17:

bagaimana kita membedakan living books ato twaddle... terutama untuk anak2... kalau sudah agak besaran mungkin lbh mudah membedakannya.

dari Judith

Ellen Kristi:

baca2 dulu yang direkomendasikan Ambleside Online supaya tahu taste-nya. Disney biasanya twaddle.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-18:

Bagaimana melatih habit of obedience?

dari Ulfa

Ellen Kristi:

menangkan respek anak. hanya ucapkan apa yang memang kita serius maksudkan. lalu konsistenlah.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-19:

bagi saya sangat sulit melatih habit of obedience sangat membuat frustrasi. Mungkin pendekatan dan perspektif saya salah. Tp kalau "anak tidak patuh" saya sangat merasa gagal dan putus harapan. Sejauh apakah dan bagaimana proses kepatuhan ini? Apakah karakter dan kekhususan anak juga punya peran?

dari Yaya

Ellen Kristi:

bagian dari memenangkan respek anak adalah memahami watak anak. teknik komunikasi & konseling sgt membantu.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-20:

Anak kedua mb Ellen sedang "pemanasan" sebelum masuk proses belajar terstruktur, "pemanasannya" seperti apa mbak, menjelang Y1?

dari Ade

Ellen Kristi:

matematika level R dari MEP dan bacaan bebas Year 1, juga sedikit latihan narasi.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-21:

Jd utk anak ke2 nya mb Ellen yg usia 6th lvb nya dari mana saja?

dari Yuli

Ellen Kristi:

LvB saya sesuai rekomendasi Ambleside Online.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-22:

anakku sekarang lagi kumat susah disuruh mandinya. udah bugil tp baru 1 jam baru mandi. bagaimana ini mbak penanganannya menurut mbak dan CM? mksh

dari Dewi

Ellen Kristi:

umur berapa, mbak Dewi?

Maria Magdalena:

dari Dewi: umur 5

Ellen Kristi:

pada dasarnya kita tetap trial & error utk menemukan pendekatan yg tepat. cara preventif tetap terbaik. bikin perjanjian dulu sblm bugil.

Maria Magdalena:

waktu kurang 8 menit, saya tutup kesempatan bertanya. Karena masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-23:

Menurut pengalaman Mbak Ellen apakah CM dpt digabung dgn metode lain? Jika ya metode apa yg sesuai yg pernah Mbak Ellen alami/ketahui?

dari Judith

Ellen Kristi:

CM punya filosofi sendiri. asal asasnya sama, tentu teknik bisa digabung. misalnya kalau ada buku dari kurikulum umum yg bagus, tentu boleh dipakai.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-24:

Bagaimana maksudnya dengan "metode lisan untuk sejarah"? Apakah dengan mendengarkan penuturan dari pelaku sejarah atau bagaimana baiknya mbak? Mengingat agak susah mencari buku sejarah Indonesia dengan cita rasa LvB

dari Ade

Ellen Kristi:

Lisan, kita bercerita. karena sedikit sekali buku sejarah Indonesia utk anak.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-25:

Pada saat pemilihan kurikulum, darimana kita tahu apakah kurikulum tersebut mendukung metode CM? Atau adakah rekomendasi kurikulum yg menggunakan metode ini?

dari Sienny

Ellen Kristi:

ada bbrp kurikulum yg cukup sesuai filosofi CM. saya pakai AO. ada yg pakai simplycm atau CMhelp

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-26:

Bgmn menghadapi tipe belajar anak yg berbeda? Apakah buku CM itu cocok utk semua tipe belajar ya?

dari Erika

Ellen Kristi:

banyak praktisi bilang CM bisa utk semua anak mereka, apa pun keunikannya.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-27:

Efektif kah bergabung dengan komunitas2 khusus, seperti komunitas pecinta sejarah, atau komunitas peminat arkeologi????

dari Ade

Ellen Kristi:

ya, itu termasuk menyuplai anak dengan atmosfir & ide.

Maria Magdalena:

pertanyaan ke-28:

Syifa umur 2 th 5 bln...saat ini pengetahuan sejarah kota sby saya bawa dia jalan2 dan memintanya untuk bercerita...tapi tetap secara visual...bagaiman mengatasinya dg anak yg mudah sekali penerimaan visualnya? Terimakasih

dari Rosana

pertanyaan ke-28 ini adalah pertanyaan terakhir

Ellen Kristi:

pada usia anak, otak kanan lebih dulu berkembang. wajar saja jika seolah dia sangat visual. seringlah membacakan buku untuknya.

Maria Magdalena:

bagaimana mbak Ellen? apakah sudah bisa ditutup kulwap CM malam ini?

Ellen Kristi:

silakan, mbak.

Maria Magdalena:

Terima kasih banyak mbak Ellen untuk malam ini

Ellen Kristi:

sama-sama

Maria Magdalena:

Terima kasih teman-2 untuk kehadirannya, semoga kulwap ini mencerahkan kita untuk mendidik dengan lebih baik

Last Updated on Friday, 29 May 2015 14:00
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 5 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :