Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Mengapa Pramuka Home Education? PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 24 November 2014 11:41

Pertengahan bulan ini menjadi suatu titik transformasi pendidikan bagi anak saya. Yaitu ketika kami bertemu dengan pembina pramuka dari Kwarda Jawa Timur. Dulu, ketika saya pribadi mengikuti pramuka di sekolah, saya tidak paham tentang pramuka dengan baik, mungkin penyebabnya adalah karena cara mengedukasi yang dilakukan oleh para pembina atau gurunya.

Dulu saya memahami pramuka sebagai aktivitas yang sekedar outdoor, mempersiapkan diri supaya kalau tersesat bisa bertahan hidup dan mencari jalan keluar dengan mudah, juga bahasa sandi. Tapi kalau bahasa sandinya dipahami oleh orang banyak ya bukan bahasa sandi lagi dong.

Terus terang, menurut saya waktu itu, itu semua gak banyak gunanya. Toh saya tidak diajari cara mengenali tumbuhan yang bisa dimakan, cara membuat api dari bahan seadanya di hutan, atau cara melindungi diri dari binatang buas. Jadi ya percuma saja.. pelajaran “tersesat”nya tidak komplit.

But then, saya dan suami bertemu dengan pembina-pembina pramuka dari Kwarda Jawa Timur. Kami mendekati mereka untuk mengajak anak-anak home education di support group yang kami bina bersama beberapa teman beraktivitas pramuka. Mindset awal saya ya seperti kegiatan pramuka yang kami rasa selama ini. Tujuan saya pun hanya supaya anak saya punya aktivitas yang outdoor, rutin, bersama teman-teman homeschoolnya. Eh tapi, setelah dipaparkan, ternyata aktivitas pramuka itu jaaauuuuuuuuh lebih luas daripada sekedar yang saya pikir ketika sekolah dulu. Terutama ketika kak Arif dan kak Pur memaparkan tentang camping rutin 4 bulan sekali yang akan kami jalani. Belum lagi tentang saka-saka yang ada di pramuka.

Apa itu “Saka”?

Saka adalah singkatan dari satuan karya. Saka adalah wadah pendidikan untuk menyalurkan minat, mengembangkan bakat dan pengalaman pramuka dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbagai saka yang ada antara lain:

Saka Dirgantara

Saka Bhayangkara

Saka Bahari

Saka Bakti Husada

Saka Bina Sosial

Saka Keluarga Berencana (Kencana)

Saka Kerohanian

Saka Pandu Wisata

Saka Pekerjaan Umum (PU)

Saka Pustaka

Saka Taruna Bumi

Saka Teknologi

Saka Telematika

Saka Wanabakti

Saka Wira Kartika

Saka Kalpataru

Saka Widya Bakti

Nah kebayangkan asyiknya kalau bisa mengembangkan minat di bidang-bidang tersebut melalui kegiatan pramuka. Bersenang-senang aktivitas di alam, sambil mengembangkan minat dan pengetahuan.

Setelah melalui diskusi dan pemberian wacana, anak saya ternyata memilih untuk mengembangkan diri dalam saka telematika karena sesuai dengan minatnya saat ini. Entah kalau kapan-kapan dia switch minat, ya terserah dia saja, yang penting dia melakukannya dengan gembira dan semangat.

Sistem saka dalam pramuka ini menurut saya sebetulnya adalah salah satu masa depan pendidikan dalam pramuka, selain pendidikan karakter “di sini senang, di sana senang” itu sendiri. Melalui saka ini, anak bisa mengembangkan minatnya, bahkan mengembangkan karirnya. Dan melalui saka pramuka, tidak hanya aspek kognisi anak yang dikembangkan, tapi juga aspek afeksinya. Terutama, ketika dibutuhkan kerja sama tim, dan suasana hati yang tenang dalam menghadapi kesulitan. Ini berbeda dengan sekedar kursus telematika, yang hanya mengembangkan sisi kognisi tanpa afeksi. Disinilah kelebihan saka pramuka.

Walau begitu, saya berharap, supaya tidak ada batasan usia dalam menempuhnya. Batasan usia yang mulai dari 16 tahun ini buat pramuka home education akan sangat mengikat. Konsep edukasi dalam home education yang lebih mementingkan kesiapan mental dan kecerdasan akan diikat oleh ketentuan usia biologis.

Apa itu “di sini senang, di sana senang”?Apa itu “di sini senang, di sana senang”?

Setelah melalui berbagai pengamatan dan pengalaman, saya memaknai konsep ini sebagai stabilitas emosi ketika menghadapi kesulitan. Kalau istilah ngetrend-nya itu kecerdasan emosi, EQ.

Ini penting, sebab dengan emosi yang stabil, kesulitan apapun bisa diatasi, dan kerja sama tim bisa terpelihara dengan baik. Pengelolaan yang paling awal adalah melalui kegiatan camping. Dalam camping, sarana dan prasarana yang disediakan harusnya minimal. Kehidupan yang minim sarana ini mengajarkan seseorang untuk bertahan dalam kesulitan, sambil memelihara suasana hati yang tetap gembira. Tidak mudah memang, tapi bukan hal yang tidak mungkin. Ketangguhan, itulah hasilnya.

Pramuka home education

Dengan nilai plus dari kedua prinsip ini, saya berharap pramuka home education makin berkembang, sehingga akan banyak bermanfaat bagi anak-anak home education itu sendiri. Tentunya, pengembangannya tak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Tapi dari pembina dan juga dari keluarga home education yang terlibat. Semoga nilai-nilai plus ini bisa dimaknai, sehingga bisa dikembangkan bersama dengan lebih baik dan aktivitas pramuka tidak dilakukan “begitu-begitu saja”.

Jika tanpa pandangan ke depan, tentunya aktivitas pramuka hanya akan jadi rutinitas belaka tanpa passion. Ini akan menjerumuskan anggota pramuka ke dalam kejenuhan, dan kemunduran. Pramuka sejatinya bisa mengembangkan kepribadian anak menjadi lebih matang, siap menghadapi masa depannya. Apalagi pramuka home education yang memiliki kelebihan dibandingkan pramuka di sekolah-sekolah.

Pramuka home education tidak terikat waktu, maupun tempat dalam pengembangan dirinya. Camping bisa dilaksanakan tanpa berbenturan dengan aturan sekolah. Tempatnya pun bisa dimana saja yang sesuai dengan tujuan. Apalagi, pramuka home education bekerja sama dengan Kwarda Jawa Timur, yang notabene punya jaringan luas ke berbagai pengembangan saka. Jika dimanfaatkan, ini akan sangat baik hasilnya. Bukankah itu sangat menyenangkan dan efektif untuk pembelajaran?

Saya jadi teringat, dulu, ketika kami, beberapa keluarga yang kumpul di Plaza Marina Surabaya untuk membicarakan aktivitas pramuka ini. Kami dulu mengonsep pendidikan pramuka untuk anak-anak kami dengan sederhana saja, sekedar menambah aktivitas outdoor dan sosialisasi bagi anak-anak. Bahkan, kami tidak berani berharap bahwa yang menjadi pembina kegiatan kepramukaan ini adalah profesional, asalkan bisa aktivitas pramuka, itu sudah cukup. Tidak disangka, ternyata Tuhan berkata lain, dikirimnya “kak Arif” yang lain ke rumah Cecilia, untuk mengatur aktivitas pramuka anak-anak home education ini, “kak Arif” yang lebih tepat daripada yang ditemui Adelien di kantor Kwarda… heheheee… saya jadi geli kalau ingat kekeliruan yang membawa berkah buat anak-anak ini. Dan ternyata sekarang aktivitas pramuka anak-anak home education ini meluas pengembangannya. Puji Tuhan!

Last Updated on Wednesday, 26 November 2014 08:48
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Yang sedang online

We have 13 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :