Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Mewujudkan Kemandirian Belajar PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Thursday, 20 November 2014 14:09

Jika berbicara tentang pendidikan, target belajar usia SD adalah mandiri dalam belajar. Target ini beda dengan sekolah. Target SD untuk sekolah adalah lulus ujian, untuk meneruskan ke SMP. Ini tidak bisa dipungkiri, mengingat kondisi sekolah saat ini.

Namun, betapa beruntungnya kita yang ada dalam jalur pendidikan berbasis keluarga. Target kita bukanlah lulus dan mendapat ijazah. Tapi memunculkan kemandirian anak dalam belajar.

Klub Sinau - kemandirian belajar

Belajar diartikan sebagai memperoleh pengetahuan dan keahlian melalui pengalaman, pemikiran, atau pengajaran. Implikasinya, ketika anak mandiri dalam belajar, dia akan mandiri dalam memperoleh pengetahuan dan keahlian melalui pengalaman, pemikiran, atau pengajarannya pada diri sendiri. Dengan kata lain: secara otodidak.

Anak jaman sekarang diuntungkan dengan semakin mudah mendapatkan informasi yang dia butuhkan. Termasuk informasi yang dia butuhkan untuk belajarnya. Dari berbagai buku yang tersedia di rumah maupun perpustakaan umum, dari berbagai webste, juga berbagai pelatihan yang sekarang sudah makin menjamur. Oleh karena itu, jika jaman yang telah penuh dukungan terhadap kemandirian belajar ini disia-siakan dengan pola pendidikan yang cenderung “menyuapi” anak, ini akan sangat disayangkan.

Keluarga yang mendidik anak secara mandiri tanpa melibatkan lembaga manapun, harusnya mulai bangkit, mengevaluasi diri, sudahkah anda menerapkan kemandirian belajar pada anak? Mandiri dalam belajar bukan berarti tahu jam belajar dan jadwalnya, tahu mana buku yang sudah waktunya dia baca, atau tahu mana soal-soal yang harus dia kerjakan. Bukan itu.

Kemandirian belajar adalah bisa memperoleh pengetahuan dan keahlian melalui pengalaman, pemikiran, atau pengajaran yang dia lakukan sendiri. Apa saja yang dibutuhkan dalam memupuk sikap ini?

  1. Sediakan materi belajar seluas-luasnya. Tapi bukan berarti membelikan semua bahan pelajaran, alat peraga, dll. Ini lebih berarti membuka banyak akses bagi anak untuk mendidik dirinya sendiri. Akses yang bisa dibuka antara lain: website-website edukasi, buku-buku yang terkait, kegiatan komunitas yang bisa dimanfaatkan anak, fasilitas-fasilitas umum, dsb.

  2. Buka diri untuk memfasilitasi keingintahuan anak. Di awal proses menuju kemandirian belajar, anak tentu masih bingung dengan apa yang harus dilakukan. Pada waktu inilah orangtua wajib membuka diri memfasilitasi anak, dari segi materi maupun semangat dan dukungan.

  3. Isi proses belajar sehari-hari dengan keterlibatan penuh dari anak secara aktif dua arah, bukan satu arah. Dua arah maksudnya orangtua dan anak sama-sama aktif berinteraksi. Bukan hanya orangtua yang memberi petunjuk tentang apa yang perlu dilakukan atau dipelajari, namun anak juga demikian. Jadi arah komunikasi adalah dua arah. Ini berbeda dengan suasana kelas yang satu arah, dimana orangtua sebagai pemberi instruksi dan anak sebagai pekerja.

  4. Sediakan waktu untuk secara intens berdiskusi dengan anak, tanpa mengerjakan hal-hal lain. Dengan orangtua yang terlibat penuh, anak akan merasa memiliki teman, tidak sendiri, ini akan mendorong kenyamanan belajarnya.

  5. Konsisten melakukan proses belajar hingga tuntas, walaupun memerlukan waktu berhari-hari. Membiasakan kemandirian belajar umumnya akan membutuhkan waktu lama. Disini orangtua berperan untuk menjadi contoh nyata bagi suatu konsistensi sikap.

  6. Memupuk keakraban dan kenyamanan selama proses belajar. Kenyamanan tetap diperlukan untuk mewujudkan kesiapan belajar dan melancarkan terbentuknya kemandirian belajar. Anak tidak akan bisa belajar dengan baik jika dia merasa tidak nyaman karena lapar, misalnya, maka perlu disediakan camilan-camilan. Atau jika cuaca sedang gerah panasnya, akan sangat menguntungkan jika belajar dilakukan di ruangan yang sejuk.

  7. Terus menyemangati anak dalam prosesnya, karena tak jarang anak akan mengalami putus asa ketika pencariannya tak menemukan jawaban. Dukungan penuh dari orangtua adalah supply semangat bagi anak. Tunjukkan itu dengan nyata, libatkan seluruh ekspresi tubuh untuk menyatakannya, ini akan menyalurkan semangat pada anak.

Kemandirian belajar tak bisa didapat dalam waktu singkat. Tapi bukan berarti tidak mungkin didapat. Juga tidak ada patokan usia dalam meraihnya, karena tiap anak berbeda kemampuan perkembangannya. Satu yang pasti, orangtua harus terlibat aktif, tidak bisa hanya memberi instruksi.



Last Updated on Thursday, 20 November 2014 14:37
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 14 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :