Support Group Home Education Indonesia

You are here:
  • narrow screen
  • wide screen
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
  • default color
  • blue color
  • green color
Wawancara Dengan Gatra : Menguak Kedalaman Home Education PDF Print E-mail
Written by Maria Magdalena   
Monday, 14 May 2012 20:21

Hari ini (14 Mei 2012) saya mendapat email dari Majalah Gatra yang ingin mewawancara saya dalam rangka penulisan tentang homeschooling ditinjau dari berbagai sudut bahasan, baik dari sisi keluarga maupun dari sisi bisnis. Tulisan ini rencananya akan ditayangan pada majalah Gatra edisi 18 Mei 2012. Berikut ini adalah jawaban saya terhadap wawancara tertulis dari Gatra :

 

Narasumber:

Maria Magdalena (Klub Sinau Sidoarjo)

Tentang Sejarah:

1. Mohon dijelaskan mengenai sejarah atau latar belakang kenapa menyelenggarakan HS?

Sebelumnya saya jelaskan dulu tentang Klub Sinau. Klub Sinau pada awal dibentuknya menyandang visi-misi sebagai organisasi tempat keluarga homeschool bisa mendapatkan informasi sebaik mungkin tentang homeschool (kami lebih suka menyebut sebagai "home education" karena "homeschool" sangat dekat dengan kondisi "sekolah", padahal dalam prakteknya hampir tidak ada proses sekolahan di dalam praktek home education), dan sebagai tempat sharing keluarga home education.

Kenapa perlu sharing?

Tidak seperti sekolah, keluarga home education menjalankan sendiri pola pendidikan sesuai visi-misi mereka. Bagi keluarga yang masih awal dalam HS dan tidak memiliki background parenting maupun guru, biasanya masih ada keraguan tentang apakah proses HS mereka itu sudah benar? Nah di sinilah dibutuhkan komunitas tempat sharing, berkeluh kesah dan mendapatkan informasi yang benar tentang home education.

Dari memandang kebutuhan inilah maka kami mengadakan komunitas home education : Klub Sinau.

2. Apakah punya pengalaman sejarah buruk mengenai sistem pendidikan yang ada?

Tidak ada, semua ini kami lakukan demi menjawab keinginan untuk memberi pendidikan terbaik bagi anak, pendidikan yang terbentuk dari visi dan misi keluarga, dan dilakukan secara mandiri oleh keluarga.

3. Atau ada motif lain seperti prospek bisnis misalnya?

Tidak ada juga! Dalam setiap kegiatannya, Klub Sinau tidak pernah menarik bayaran berlebih dari anggota. Pendanaan kami sifatnya patungan hanya untuk menutup biaya kegiatan, tanpa ada pofit untuk penyelenggara. Kami juga menyediakan konsultasi gratis tiap hari, melalui Facebook maupun email dan website. Kami juga banyak mengandalkan donasi dan sponsor untuk kelangsungan organisasi, seperti misalnya untuk membiayai website, juga untuk menyediakan hadiah bagi berbagai kompetisi yang kami adakan.

Bagi kami, pendidikan mandiri oleh keluarga ini tidak bisa dibisniskan, seharusnya juga tidak laku. Karena, ketika keluarga siap untuk menerapkan home education, maka mereka tidak perlu penunjang proses belajar yang sifatnya khusus bagi keluarga homeschool, seperti yang disediakan oleh pebisnis homeschool. Proses homeschool adalah proses mandiri. Keluarga bisa mengusahakan sendiri segala keperluan pendidikan keluarga, termasuk dalam mendidik sendiri anaknya, memilih ujian, dan bahkan mengusahakan sertifikasi bagi anaknya.

Kalau ada keluarga yang mengaku diri sebagai keluarga homeschool tapi ternyata tidak mendidik sendiri anak mereka, melainkan menyerahkan pendidikan anak (kurikulum, materi, bahkan pengajaran) kepada lembaga bisnis homeschool, maka itu berarti keluarga tersebut belum siap berhomeschool. Apa bedanya dengan sekolah?

4. Atau karena pendidikan sekarang ini cenderung sangat mahal dengan hasil output yang tidak jelas?

Fakta ini memang menjadi alasan sebagian besar keluarga memilih home education. Output yang tidak jelas itu kalau diuraikan antara lain : anak tidak tergali dan tersalurkan bidang minat dan potensinya, anak seringkali jadi korban ikut-ikutan teman dalam memilih jurusan sewaktu kuliah, resiko ketiadaan semangat dan inisiatif dalam belajar, dsb. Bagi orang tua yang peduli, ini menjadi suatu pertanyaan besar, mengapa sekolah menjadi lembaga yang menghasilkan anak-anak yang demikian? Akhirnya, mereka pun menggali tentang home education dan menemukan alternatif ini sebagai pola pendidikan yang akan mereka ikuti.

5. Menurut data diknas ada kok keluarga yang tak mampu turut melaksanakan HS? Apa betul? Bisa di jelaskan semuanya secara detail?

Home education sangat tepat diterapkan oleh keluarga yang tidak mampu secara finansial, kenapa? Karena biayanya sangat bisa disesuaikan dengan kemampuan keluarga, tidak ada biaya yang sifatnya wajib. Kurikulum yang bisa diterapkan untuk home education sudah banyak dan gratis untuk didapat. Klub Sinau seringkali membantu anggota dalam memperoleh kurikulum, baik kurikulum nasional maupun internasional. Klub Sinau juga membantu mengarahkan anggota pada pembuatan kurikulum sendiri. Dan ini semua gratis, tanpa biaya sama sekali.

Lalu, bagaimana tentang materi seperti buku atau bahan ajar yang lain? Dalam home education ada kebebasan penggunaan materi sesuai kebutuhan keluarga. Sekarang banyak materi pelajaran yang gratis. Inilah yang bisa dimanfaatkan oleh keluarga yang tidak mampu secara finansial.

 

Tentang dampak:

1. Lantas sejauh ini bagaimana perkembangan anak-anak yang pernah mengikuti HS? (Kami mohon untuk diusahakan se-objektif mungkin jawabannya)

Home education seperti layaknya metode belajar lainnya, sangat tergantung pada sosok pendamping belajar. Dalam hal ini adalah orang tua. Jika orang tua bisa memberikan pengalaman belajar yang sangat baik, penuh kasih dan mengutamakan pembentukan karakter yang baik dan karakter cinta belajar, maka kepribadian anak-anak pun bisa berkembang dengan baik pula. Apalagi dalam home education anak dididik tanpa gangguan dari pihak luar, misalnya gangguan akibat bullying teman/guru, gangguan akibat pergaulan yang tidak sehat, dsb.

Dalam home education, anak juga diberikan pendampingan yang maksimal dari orang tua dalam menghadapi setiap problema dengan lingkungannya. Pendampingan disini bukan berarti perlindungan terus menerus. Namun bimbingan dan arahan yang selalu tersedia.

Namun, jika orang tua tak memiliki bekal untuk mendampingi tumbuh-kembang anak dan tidak mau mempelajarinya, maka perkembangan anak pun akan terganggu, apalagi di sini tidak ada orang lain yang menggantikan tugas orang tua selama beberapa jam seperti jika anak bersekolah.

Tapi kasus gangguan perkembangan ini sangat jarang terjadi. Umumnya orang tua home education yang saya kenal sangat memahami yang terbaik bagi anak dan menerapkannya. Saya pribadi berpendapat bahwa disinilah keunggulan home education, yaitu adanya kesungguhan dari sang guru utama (baca: orang tua) untuk memberi yang terbaik pada anak, tidak hanya di bidang akademis, tapi terutama di pengembangan karakternya.

2. Prestasi mereka bagaimana?

Masalah prestasi ini tentu saja tidak bisa disamaratakan. Home education tidak semata-mata bertujuan mengatrol prestasi akademik seorang anak. Kalau pun ada prestasi akademik yang ditunjukkan, itu adalah bonus dari proses belajar yang penuh passion, kasih sayang, penerimaan akan kekurangan, dan kerelaan untuk belajar keras dalam mencapai tujuan. Tidak semata-mata karena ingin berprestasi. Jadi prestasi ini adalah hasil dari karakter belajar tersebut diatas.

3. Di bidang apa saja? Atau multibidang?

Ini juga tidak bisa disamaratakan, kembali pada visi-misi keluarga tentang pendidikan. Kalau pun dibuat penelitiannya maka nilai mean, median, modusnya pun tidak akan didapat, karena karakteristik home education ditiap keluarga itu berbeda. Contohnya saja keluarga saya, yang tidak mementingkan prestasi dari penilaian orang lain (misalnya melalui lomba atau kompetisi), kami lebih mementingkan bahwa keingintahuan anak, passionnya terhadap belajar itu terpuaskan. Dibandingkan dengan keluarga teman baik saya, anak mereka berprestasi di bidang beladiri Wushu, nah karakteristik home education keluarga kami berdua sudah sangat berbeda.

4. Apa buktinya kalau mereka berprestasi?

Jika membicarakan prestasi dalam konteks pandangan orang di luar keluarga tentu yang akan melibatkan kompetisi. Dalam tiap kompetisi tentu ada sertifikat atau piala atau piagam, dsb. Ini adalah bukti prestasi mereka.

5. Lalu apakah tidak ada penolakan dari mereka yang sebelumnya pernah bersekolah formal?

Maksudnya penolakan anak-anak ya? Dalam memulai home education pada umumnya orang tua akan menanyakan pada anak : apakah mereka mau belajar bersama orang tua atau belajar di sekolah? Jika anak menolak dari awal tentu saja orang tua tak bisa memaksakan diadakannya home education. Tapi jika anak setuju, maka tentu saja tidak ada penolakan dalam pelaksanaannya.

6. Bagaimana kalau mereka inign sekolah kembali seperti anak-anak pada umumnya?

Jika keinginan ini ada dan kondisinya sangat memungkinkan untuk kembali ke sekolah, maka why not? Anak-anak tahu yang terbaik, apalagi jika sebelumnya mereka home education, maka mereka tahu yang mereka butuhkan dan inginkan.

7. Apakah mereka tidak takut dibilang ”aneh” karena sekolah di rumah?

Anak-anak home education sangat memahami posisi mereka. Pasti oleh lingkungan mereka akan dianggap aneh, kenapa? Karena mereka tidak dididik dengan seragam seperti yang terjadi di sekolah. Anak home education memahami passionnya, mengejarnya, melakukannya. Mereka tidak berusaha menjadi sama dengan teman sebayanya. Dan ini sangat mereka pahami karena sering dikomunikasikan pula oleh orang tua. Kelak ketika mereka masuk dalam lingkungan yang seragam itu tak ada halangan bagi mereka karena mereka telah memahami kondisinya dan bisa menyesuaikan diri terhadapnya.

8. Apakah anda akan memaksa program HS jika mereka tidak mau?

Tidak. Sejak awal anak saya sudah saya ajak berunding tentang proses home educationnya. Dia setuju, maka kami pun jalankan. Kalau suatu saat dia ingin ke sekolah, maka saya pun tidak akan melarang. Karena saya percaya bahwa dia telah tahu yang terbaik baginya. Begitu juga ketika dia memutuskan untuk belajar secara mandiri selamanya, maka dia tahu bahwa inilah yang terbaik baginya. Disinilah keistimewaan home education, ketika keputusan anak sangat dihargai melalui setiap komunikasi yang terbuka, maka dia belajar untuk memiliki integritas dalam dirinya.

 

Tentang masa depan:

1. Apa sih kelebihan HS?

Kelebihan home education ada pada ikatan orang tua dan anak. Orang tua pasti ingin yang terbaik bagi perkembangan akademis dan sekaligus karakter kepribadian anaknya. Kebebasan yang ada pada home education adalah juga kelebihannya dibandingkan sekolah. Keluarga bebas memilih segala hal yang diperlukan untuk mencapai visi-misi pendidikan keluarga. Namun kebebasan ini tidak akan didapat jika keluarga memilih menyekolahkan anak di “sekolah homeschool”.

2. Bagaimana dengan kekurangannya? (Mohon dijelaskan secara detail juga karena untuk memberikan edukasi yang benar kepada pembaca mengenai informasi ini)

Kekurangannya tentu saja pada pelaksanaan yang salah. Misalnya, pada prakteknya anak justru dijejali berbagai materi pelajaran sepanjang waktu hingga tak ada waktu baginya untuk melakukan yang menjadi minatnya dan mengembangkan potensinya. Contoh yang lain orang tua kebingungan memilih materi hingga menggunakan semua materi dari segala sumber, dan anak juga yang jadi korbannya.

Oleh karena itu, dibutuhkan peran serta komunitas untuk kembali me-refresh hakekat home education supaya keluarga bisa kembali menjalankan aktivitas dengan benar dan menghindari kesalahannya.

3. Bagaimana dengan anak anda? Apakah juga mengikuti program HS?

Ya, anak saya usia 8 tahun, setara kelas 3 SD, tidak pernah bersekolah formal. Kalau anak saya home education maka saya tidak akan bisa bicara tentang home education karena saya tidak praktek. Orang yang tidak menjalankan home education tidak akan bisa memahami seluk beluk di dalamnya. Jadi jangan percaya pada orang yang bicara tentang home education namun tidak menerapkannya pada anaknya, karena mereka tidak tahu kedalaman home education. Home education itu lebih dalam daripada persepsi orang selama ini. Home education mencakup segala aspek hidup seorang anak : kedewasaan kepribadiannya, ketebalan imannya, kecerdasan akademisnya, ketepatan pilihan hidupnya, dan kebahagiaannya. Jadi, kalau orang bicara home education tanpa mendampingi anaknya yang home education, tak akan banyak yang bisa digali darinya.

4. Kemana? Atau ditangani sendiri?

Ditangani sendiri, karena saya menjalankan home education yang sebenarnya, yaitu suatu kondisi dimana keluarga saya bebas memilih jalan pendidikan sesuai visi-misi keluarga saya.

5. Apakah anda berani memgambil resiko ”uji coba” ini terhadap anak sendiri?

Jelas tidak. Saya dan suami selalu memikirkan dengan teliti segala hal yang akan kami berikan pada anak, tidak hanya pendidikannya, tapi juga makanan dan minumannya. Anak kami bukan kelinci percobaan. Itu sebabnya kami tangani pendidikan anak kami, tidak kami serahkan pada orang/lembaga lain.

6. Apakah tidak khawatir jika mereka tidak cepat menyesuaikan diri dengan dunia luar?

Tidak, karena justru dengan home education anak kami selalu berada di dunia luar, tidak terkurung dalam bangunan gedung sekolah. Mari ubah persepsi bahwa di dalam home education itu hanya ada anak, orang tua, dan rumah. Home education lebih luas, ini adalah pendidikan yang sangat mengakomodasi interaksi anak dengan lingkungan hidup yang sebenarnya, bukan lingkungan yang telah dimanipulasi seperti dalam laboratorium. Justru dari lingkungan dunia luarnya inilah anak belajar dengan sangat baik, dan disinilah kelebihan home education, ketika anak bisa belajar tanpa terikat jadwal dan ruang.

7. Apakah tidak repot nanti jika meraka harus mengikuti ujian persamaan?

Seperti yang saya katakan di atas, sejak awal kami memilih kurikulum yang tidak merepotkan, kami memilih kurikulum yang dalam pelaksanaan ujiannya tidak diikuti oleh syarat-syarat yang menyulitkan. Sejak awal kami telah membekali diri dengan pengetahuan yang baik tentang segala hal dalam home education. Karena itu kami tidak merasa kawatir lagi tentang segala hal yang diperlukan untuk ujian anak kami.

8. Lalu apa anda tidak khawatir jika mereka sulit diterima di dunia kerja/industri karena ”hanya” punya ijazah persamaan?

Kalau yang dimaksud “ijazah persamaan” adalah ujian paket C yang diselenggarakan secara nasional, maka terus terang saya katakan bahwa kami tidak memilih jalur ujian ini. Kami sangat memanfaatkan kebebasan home education, maka kami memilih kurikulum yang lain dengan ujian yang berbeda pula, dan tentunya dengan jenis ijazah yang berbeda pula, yaitu ijazah yang lebih bisa diterima di universitas tingkat internasional.

9. Bagaimana kelak suatu ketika mereka bertanya kepda anda, kok saya tidak disekolahkan di sekolah formal dan menyalahkan anda? Bagaimana anda menyikapi hal itu?

Oh, untuk hal ini sudah saya jelaskan diatas, bahwa sebelum memilih home education kami telah mendiskusikannya bersama anak. Setiap tahun dan setiap waktu ada kesempatan kami juga selalu mendiskusikannya, apakah cara belajar yang seperti kami lakukan sekarang ini masih sesuai untuk anak. Kami selalu mendiskusikannya bersama anak. Selain itu kami juga mengajarkan pada anak tentang tanggung jawab pada tiap pilihan. Jika saat ini anak telah memilih home education maka dia harus bertanggung jawab terhadap pilihannya ini, tidak menyalahkan siapapun jika dia merasa ada yang salah. Ini adalah bagian dari pembelajaran karakter kedewasaan dalam home education kami. Kecuali jika anak tidak kami libatkan dalam proses diskusi ini, dia berhak marah karena dia tidak diijinkan untuk bersuara dalam menentukan masa depannya.

10. Anak HS juga dinilai kuper?

Saya belum melihat ada keluarga home education yang anaknya kuper. Ini istimewanya. Selama ini di masyarakat bertebaran pendapat bahwa anak home education kurang pergaulan, tidak bisa bersosialisasi, dsb tentang gangguan sosialisasi. Tapi saya, yang kenal beratus-ratus keluarga home education sama sekali belum melihat ada anak yang kuper. Ketika pertama bertemu anak home education, mereka adalah anak-anak yang normal, tidak mengalami gangguan perilaku.

11. Bagaimana mereka bisa berorganisasi? Belajar mandiri? Dan kegiatan yang sifatnya sosialisasi?

Persepsi bahwa dalam home education hanya ada anak, orang tua dan rumah inilah yang membuat timbulnya pertanyaan ini di masyarakat. Home education lebih luas daripada itu, anak home education hidup normal seperti anak lain, percayalah! Mereka juga kursus bahasa Inggris di EF, mereka ikut klub sepak bola, ikut sanggar seni, terlibat dalam kompetisi renang, terlibat dalam kegiatan sosial seperti kegiatan amal, mereka terlibat di tempat pendidikan Al'Quran, mereka juga terlibat di organisasi gereja, mereka juga aktif dan berprestasi di klub science dan robotic. How about that? Mereka normal-normal saja kan... mereka belajar berorganisasi, team work, belajar dengan mandiri, dan mereka bersosialisasi juga di sana! Dan mereka bahagia. Betapa indahnya home education itu di mata anak-anak, mereka bisa belajar dengan puas segala yang menjadi minat mereka, mengembangkan potensi mereka, bersama orang-orang yang mencintai dan memahami mereka.

12. Bagaimana dengan dampak psikologis anak?

Dampak psikologis yang saya amati adalah kedewasaan, kematangan pribadi, karena mereka dididik dengan perhatian dan kasih sayang orang tua. Balutan kasih sayang ini sangat penting untuk langkah awal anak menuju dunia luar dengan penuh kedewasaan dan kepuasan pribadi.

Last Updated on Tuesday, 15 May 2012 09:20
 

The Logo

Search

Get Update

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Login

Jika anda keluarga homeschooling, silakan register dan melakukan login untuk menikmati isi website Klub Sinau ini lebih lanjut



Tulisan Terkait

Yang sedang online

We have 71 guests online

Bookmark

Add to: Mr. Wong Add to: Webnews Add to: Icio Add to: Oneview Add to: Yigg Add to: Linkarena Add to: Digg Add to: Del.icoi.us Add to: Reddit Add to: Simpy Add to: StumbleUpon Add to: Slashdot Add to: Netscape Add to: Furl Add to: Yahoo Add to: Blogmarks Add to: Diigo Add to: Technorati Add to: Newsvine Add to: Blinkbits Add to: Ma.Gnolia Add to: Smarking Add to: Netvouz Add to: Folkd Add to: Spurl Add to: Google Add to: Blinklist Information
by: camp26.biz

Join our :

Facebook Share

Share on facebook

Google +1


By PLAVEB

Choose Your Language

Browse this website in:

Blog Home Education:

 


The Root of Learning

Award :